Majene, Sulbar.99news.id—Bupati Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, DR. Andi Achmad Syukri, diminta mencopot dokter Yupie Handayani, dari jabatan Sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majene.
Permintaan tersebut bukan tanpa alasan. pasalnya dibawah nahkoda dokter Yupie, pelayanan di rumah sakit terhadap masyarakat sangat buruk, ditambah lagi dengan persoalan persediaan obat yang sampai saat ini masih kosong.
“Kekosongan obat yang terjadi di rumah sakit Majene merupakan suatu cerminan kebobrokan management pimpinan rumah sakit, bahkan meninggalkan jejak aroma korupsi, jadi persoalan ini jangan di anggap sepele. Perlu di pahami bahwa pasien yang dirawat dirumah sakit punya hak untuk mendapatkan pelayanan yang baik serta jaminan kesehatan,” ujar salah seorang aktivis anti korupsi NCW Palar Anwar.
Menurut Palar, pembiaran terhadap kondisi tersebut menunjukkan lemahnya kendali manajemen dan membuat direktur rumah sakit kehilangan legitimasi moral untuk memimpin, belum lagi dengan isu persoalan lainnya yang saat ini tengah jadi perbincangan.
“Pelayanan kesehatan adalah hak dasar warga. Jika institusi publik gagal menyediakan fasilitas aman dan manusiawi, maka pejabat yang bertanggung jawab harus diminta pertanggungjawaban, dan sudah menjadi tugas dan tanggungjawab direktur rumah sakit untuk memastikan jaminan kesehatan termasuk ketersediaan obat yang memadai bagi pasien,” tegasnya.
Disisi lain, kata Palar keberadaan anggaran belanja obat-obatan juga patut dipertanyakan, dan ini persoalan serius karena berkaitan dengan jaminan kesehatan pasien, jangan sampai karena kebobrokan management serta pengelolaan anggaran rumah sakit yang amburadul sehingga pasien ikut menjadi korban.
“Bupati Majene jangan menutup mata, segera lakukan evaluasi bawahan yang kinerjanya tidak becus, makanya diminta agar Bupati copot dokter Yupie dari jabatannya, apalagi yang bersangkutan ini tidak layak menjadi direktur, karena selama ini diduga hampir dua tahun tidak melaksanakan tugas sebagai ASN,” tutupnya.(Ali).













