DAERAH  

Gubernur Sulbar Pastikan Stok Pangan Aman, Tapi Harga Bawang Merah dan Ayam Naik

Gubernur Sulbar Pastikan Stok Pangan Aman Tapi Harga Bawang Merah dan Ayam Naik

MAMUJU— Gubernur Sulbar, Suhardi Duka (SDK) bersama stakeholder turun langsung mengecek kesiapan pasokan bahan pokok jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Lokasi yang disambangi Bulog Mamuju dan Pasar Regional Sulbar.

Hasilnya, ketersediaan bahan konsumsi dipastikan aman. Stok dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama momen Nataru.

“Pada prinsipnya semua bahan konsumsi tersedia. Tidak ada yang tidak tersedia. Stok juga cukup. Hanya memang ada terjadi kenaikan utamanya bawang merah, bawang merah dalam minggu ini kenaikannya itu sekitar Rp10.000 sampai Rp15.000. Dari Rp40.000 naik menjadi Rp55.000. Begitu juga ayam karena permintaan ayam ini cukup tinggi,” jelas Suhardi Duka.

Baca Juga  DLHK Sulbar dan Forum DAS Audiensi dengan Sekda Bahas Tindak Lanjut Ground Check di DAS Mapilli

Kenaikan harga paling terasa terjadi pada bawang merah dan ayam. Ayam menjadi komoditas yang paling diburu jelang Nataru, ditambah kebutuhan penyedia MBG serta warga yang merayakan Natal.

Baca Juga  Dukung Program MBG 2026, Pemprov Sulbar Dorong Penguatan Rantai Pasok Komoditas Pangan

Sementara itu, harga beras masih relatif stabil di pasaran. “Sedangkan beras cukup di angka stabil. Di angka pasar itu sekitar Rp13.000 itu untuk beras medium untuk beras premium di angka Rp14.000,” jelasnya.

Melihat lonjakan harga bawang merah, Suhardi Duka menyebut perlu ada langkah intervensi dari pemerintah daerah. Tujuannya membantu petani meningkatkan produksi karena biaya bibit yang tergolong mahal.

Ia menyebut pelatihan dan bantuan dibutuhkan agar petani bisa memperluas panen dan menekan kenaikan harga. Apalagi selama ini pasokan bawang merah Sulbar masih bergantung dari Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.

Baca Juga  Gerakan Mandarras, Perpusip Sulbar Agendakan Perpustakaan Keliling di Pasar Malam Rakyat Tinambung

“Ketersediaan utamanya bawang merah itu,
Pemerintah daerah harus mengintervensi
untuk melakukan pelatihan, perluasan
dan bantuan kepada petani untuk bisa
memperluas panen mereka, supaya
kenaikannya ini tidak terlalu signifikan,” ungkap Suhardi Duka. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *