DAERAH  

BPBD Sulbar Catat 745 Kejadian Bencana Sepanjang Januari–Oktober 2026, Kebakaran Hutan dan Lahan Mendominasi

MAMUJU— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat mencatat sebanyak 745 kejadian bencana di wilayah Provinsi Sulawesi Barat selama periode 1 Januari sampai 31 Oktober 2026. Data tersebut menggambarkan berbagai jenis bencana yang terjadi di enam kabupaten di Sulawesi Barat dan dampaknya terhadap masyarakat, permukiman, fasilitas umum, serta lingkungan.

Upaya tersebut dilaksanakan sejalan dengan arahan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat Junda Maulana, agar seluruh perangkat daerah dan unsur terkait meningkatkan koordinasi, kolaborasi, serta respons terhadap potensi dan kejadian bencana demi melindungi masyarakat.

Berdasarkan data rekapitulasi BPBD Sulbar, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi kejadian paling banyak dengan 549 kejadian, disusul kebakaran permukiman/gedung sebanyak 96 kejadian, tanah longsor 35 kejadian, angin kencang 18 kejadian, banjir 11 kejadian, gempa bumi 11 kejadian, pohon tumbang 10 kejadian, banjir dan tanah longsor 5 kejadian, kekeringan 5 kejadian, banjir rob 2 kejadian, gelombang pasang 2 kejadian, serta angin puting beliung 1 kejadian.

Baca Juga  Panja DPRD Sulbar Finalisasi Pembahasan Ranperda Perubahan Perda Perusda Sebuku Energi Malaqbi, Siap Diteruskan ke Kemendagri

Sebaran kejadian berdasarkan kabupaten menunjukkan Kabupaten Polewali Mandar mencatat 225 kejadian, Kabupaten Majene 199 kejadian, Kabupaten Mamuju Tengah 108 kejadian, Kabupaten Mamasa 98 kejadian, Kabupaten Mamuju 78 kejadian, dan Kabupaten Pasangkayu 37 kejadian.

Dari sisi dampak terhadap masyarakat, tercatat 3 orang meninggal dunia, 1 orang hilang, dan 4 orang mengalami luka-luka. Bencana juga berdampak terhadap 17.985 kepala keluarga atau 48.974 jiwa.

Baca Juga  Perpusnas Dukung Sulbar Mandarras: KKN Tematik Literasi Libatkan 650 Mahasiswa di 65 Lokus

Pada sektor permukiman, tercatat sebanyak 483 rumah terdampak, terdiri atas 173 rumah rusak berat, 71 rumah rusak sedang, 164 rumah rusak ringan, dan 75 rumah terendam. Sementara itu, fasilitas umum terdampak sebanyak 14 unit, meliputi 7 sarana pendidikan, 1 fasilitas ibadah, 2 fasilitas kesehatan, 1 fasilitas kantor, dan 3 jembatan.

Dampak terhadap lingkungan dan sumber penghidupan masyarakat juga tercatat pada sektor hutan dan lahan, yakni 1.566 lahan/kebun serta 441,12 hektare hutan terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Barat, Muhammad Yasir Fattah, menegaskan pentingnya penguatan kesiapsiagaan dan koordinasi penanggulangan bencana dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Baca Juga  Tutup Pelatihan DLA, Gubernur Suhardi Duka: ASN Berkualitas Akan Hasilkan Layanan Publik yang Baik

“Data kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi dan dasar untuk memperkuat langkah pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat, serta pemulihan pascabencana di seluruh wilayah Sulawesi Barat,” kata Yasir Fattah, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin 2 November 2026.

BPBD Sulbar mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan, mengenali potensi risiko bencana di lingkungan masing-masing, serta segera menyampaikan informasi apabila terjadi bencana kepada aparat setempat atau BPBD.

“Kesiapsiagaan dan keterlibatan masyarakat merupakan bagian penting dalam mengurangi risiko serta meminimalkan dampak bencana,” pungkas Yasir Fattah.

#PemprovSulbar #GubernurSulbar #GubernurSuhardiDuka #bpbdsulbar #bpbdsulawesibarat #sulbartangguh

Naskah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *