OPINI  

Beras Subsidi Solusi Semu Meroketnya Harga

Oleh Hasmiati A.Md

Lagi-lagi lagu lama berulang kembali dimainkan jelang bulan Ramadhan, beberapa harga barang kebutuhan pokok mulai merangkak naik di pasaran Kalimantan Timur (Kaltim), seperti Samarinda, Balikpapan, Kukar, Bontang, Kutim, dan beberapa daerah lain. Terutama Beras. Meski demikian Bulog Kantor Cabang (Kancab) Samarinda, Kalimantan Timur, menjamin stok beras masih mampu mencukupi untuk kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri. Pemerintah pun melakukan beberapa langkah mengatasi kenaikan harga, seperti operasi pasar murah dibeberapa titik kota dan daerah.

Sudah seharusnya bulan Ramadhan yaitu
bulan mulia dan bulan penuh dengan ibadah, rakyat ingin fokus dan tenang menjalankan ritual ibadahnya. Namun sayang di saat Ramadhan justru rakyat kembali dihadapkan dengan berbagai nestapa kehidupan yang seharusnya sudah diantisipasi bahkan tidak perlu terulang kembali yaitu lonjakan harga beberapa kebutuhan pokok.

Fenomena kenaikan harga ini berulang dan rutin terjadi setiap kali jelang Ramadhan.
Tentu saja dampak kenaikan harga ini cukup menguras pemikiran, dompet dan tata kelola keuangan rumah tangga emak-emak yang notabene adalah manager dalam urusan dapur rumah. Bahkan dampak kenaikan harga sembako khususnya beras tidak hanya dirasakan oleh ibu rumah tangga saja akan tetapi pedagang warung makan pun ikut terdampak oleh kenaikan harga beras ini. Mereka tidak berani menaikan harga jual nasi bungkus tetapi terpaksa harus mengurangi porsi nasi dari biasanya bahkan mereka rela memangkas keuntungan yang memang sudah cukup tipis.

Baca Juga  Kenikmatan Iftar Ramadhan

Alhasil rakyat tingkat menengah kebawah menjerit dengan kondisi yang tengah terjadi saat ini. Kemana mereka harus curhat dan mengadu? Apakah cukup solusi beras subsidi dari pemerintah yang harus rela antri berdesakan dan berebut seperti zaman tahun 60-an lalu. Pertanyaannya pantaskah potret kehidupan ini terulang di negeri gemah Ripah loh jinawi?

Indonesia negeri yang memiliki kekayaan sumber daya alam berlimpah layaknya syair sebuah lagu “Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman”. Pantaskah potret kehidupan rakyat Indonesia yang negerinya sedang berpacu membangun infrastruktur canggih dan modern di mata dunia? Apa kata dunia apabila rakyat masih di hadapkan pada problematika seputar isi perut yang tidak dipenuhi secara layak?

Baca Juga  Kampanye di Kampus " ( Optimalisasi Politik Gagasan )

Merangkak naiknya harga beras bukti nyata kegagalan penguasa mengurus rakyatnya dengan baik dan adil. Sistem kapitalisme yang mencengkram begitu kuat di negeri ini sehingga seorang pemimpin negara abai dalam melindungi dan memenuhi kebutuhan dasar rakyat dengan harga murah dan terjangkau di berbagai lapisan masyarakat. Pemimpin abai dan seringkali kecolongan dalam tugas mengawasi distribusi pangan rakyat sehingga pedagang nakal dan para penimbun (mafia beras dan sembako) dengan mudah mempermainkan harga dan memanfaatkan momen-momen perayaan dan hari besar Islam sebagai suatu kesempatan meraup keuntungan yang besar.

Berbeda dengan sistem Islam yang mempunyai tujuan utamanya kemaslahatan umat. Pemimpin dalam sistem Islam sangat taat kepada Allah Swt dalam memikul amanah seorang pemimpin sehingga berbagai kebijakan yang berstandar al Qur’an dan Sunnah pun di terapkan dalam mengelola ketahanan pangan negara, yakni dengan sistem pertanian Islam.

Baca Juga  IKN, layakkah dijadikan Isu Strategis Nasional ?

Sistem Islam menjamin pemenuhan pangan bagi setiap individu tanpa terkecuali. Dengan cara negara mengoptimalkan penyediaan pasokan pangan dari dalam negeri dengan melaksanakan konsep pertanian Islam. Pengawasan ketat terhadap distribusi kebutuhan pokok rakyat dan mekanisme pasar, jangan sampai ada rakyat yang kekurangan dan kelaparan. Bahkan menerapkan hukuman berat bagi pedagang nakal dan spekulan yang mempermainkan harga.

Penguasa dalam sistem Islam mendukung penuh para petani lokal dan memaksimalkan potensi pertanian dalam negeri dengan melakukan modernisasi pertanian dan sinergisitas antarwilayah sehingga tidak perlu impor beras.

Demikianlah sistem Islam menjamin dan mewujudkan ketahanan pangan rakyatnya. Jika beban dan pukulan berat terasa akibat kenaikan berbagai harga bahan pangan, sudah semestinya umat menyadari dan kembali pada pengaturan yang benar yakni sistem terbaik dari Sang Maha Benar Pengatur dan Pencipta kehidupan dengan menerapkan aturan Islam secara kaffah diberbagai lini kehidupan.

Wallohu a’lam bissowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *