MAMUJU – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat bergerak cepat mengupas tuntas tantangan penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TBC). Melalui Dialog Interaktif “Indonesia Sehat” yang disiarkan langsung secara multiplatform oleh RRI Mamuju pada Jumat 03 Juli 2026, pemerintah membeberkan fakta mengejutkan mengenai ribuan kasus TBC yang masih belum terdeteksi di tengah masyarakat.
Acara yang dipandu oleh host Dwita Ardiyana ini menghadirkan dua pembicara utama, yaitu Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, serta Epidemiolog Kesehatan Ahli Pertama DKPPKB Sulbar, Harsalim. Tema yang diangkat sangat krusial: “Deteksi Dini TBC: Mengapa Kasus Masih Banyak yang Terlewat?”.
Dalam dialog tersebut, terungkap data epidemiologi TBC di Sulawesi Barat per Juni 2026 yang cukup mengkhawatirkan dimana Estimasi Target Kasus TBC: 5.002 kasus dan jumlah Kasus yang Berhasil Ditemukan: 1.743 kasus sehingga Kasus yang Masih Terlewat (Belum Terdeteksi): 3.259 kasus (sekitar 65,2%).
Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa selisih angka yang mencapai 3.259 kasus ini merupakan tantangan besar sekaligus ancaman penularan yang nyata di masyarakat.
“Baru sekitar 34,8% kasus yang berhasil kita temukan dan obati hingga pertengahan tahun ini. Sisanya, hampir 65% terduga penderita TBC, diperkirakan masih beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari bahwa mereka bisa menularkan bakteri ini kepada 10 hingga 15 orang di sekitarnya setiap tahun. Oleh karena itu, deteksi dini bukan lagi sekadar program, melainkan urgensi bersama,” jelas dr. Nursyamsi.
Sementara itu, Harsalim, selaku Epidemiolog Kesehatan memaparkan bahwa penyebab utama banyaknya kasus yang terlewat adalah minimnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri saat mengalami gejala batuk persisten lebih dari dua minggu, ditambah adanya stigma negatif yang membuat masyarakat takut atau malu berobat.
“Masyarakat tidak perlu takut. Deteksi TBC saat ini sudah menggunakan alat canggih Tes Cepat Molekuler (TCM) yang akurat. Yang terpenting, seluruh pemeriksaan dan obat-obatan TBC disediakan secara gratis oleh pemerintah di Puskesmas,” terang Harsalim.
Pihak DKPPKB Sulbar juga membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berinteraksi, berkonsultasi, maupun melaporkan adanya indikasi kasus di lingkungan sekitar. Melalui siaran interaktif ini, DKPPKB Sulawesi Barat menyerukan gerakan aktif penemuan kasus (active case finding) demi mencapai target eliminasi TBC. Langkah ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka, yang terus mendorong percepatan eliminasi TBC sebagai bagian dari peningkatan derajat kesehatan masyarakat untuk mewujudkan Visi “Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera”.












