TOPOYO, Seorang warga Pontanakayang, Hj. Rannu diduga jadi korban ribut-ribut di sebuah rumah dengan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mamuju Tengah Hj. Nirwanasari Aras, Senin 17 Agustus 2026 lalu.
Video itu beredar di media sosial berdurasi 14 detik. Tampak seorang ibu-ibu dalam video itu diteriaki dan diusir untuk pergi dari tempat tersebut.
Ditemui di rumahnya, Hj. Rannu yang merupakan petani sawit yang juga merupakan orang dalam video ribut-ribut itu mengaku, telah mengadakan perjanjian dengan Hj. Nirwanasari yang merupakan Kadinsos Mateng soal menggadai kebun sawit 4 hektar sebesar Rp 150 Juta.
“Ini uang, kumasukkan ke uwe Nanna (Hj. Nirwan) Rp 100 Juta. Jadi itu Rp 50 Juta, mau kukasih uwe Nanna, ada kode dari suaminya (Gazali). Nabilang itu uang sembunyikanmi, seperti itu kodenya,” ungkap Hj. Rannu.
Selanjutnya, uang Rp 50 Juta diserahkan ke suami Uwe Nanna Pak Gazali sebesar Rp 48 Juta lewat transfer ke rekening atas nama Gazali dan Rp 2 juta lewat tunai melalui anaknya berinisial DF.
“Uwe Nanna tahu kalau ku kasih anaknya Rp 2 Juta dengan perjanjian kupakai sawitnya Rp 4 juta sebulan,” ujarnya.

Saat dirinya dimarahi di rumah Uwe Nanna, Hj. Rannu mengaku disuruh pergi. “Kubilang sama Uwe waktu dimarahika, kubawa itu turun kuitansi. Nabilang itu suaminya uwe, mana surat pengirimanku. Kenapa natanya itu. Baru berdiri itu suaminya, nasuruhka pergi uwe Nanna,” urainya.
Sambil menangis, Hj. Rannu merasa telah dikecewakan pak Gazali dan dipermalukan. “Kenapa ini pak Gazali tidak bertanggungjawab, nausirka itu Uwe Nanna. Begitu mungkin kalau pejabat, tidak pakai perasaan,” ujarnya sambil meneteskan air mata.
Hj. Rannu juga menceritakan bahwa sempat pak Gazali memecahkan pot bunga di rumahnya dan istrinya juga mengusir dirinya secara tidak sopan. “Tidak mauka dulu pulang kalau belum kuminum air panasnya,” jelasnya lagi dengan nada sangat sakit hati.
Waktunya mau ambil uang gadai, lanjut Hj. Rannu, pak Gazali bahkan rela menunggu jam 3 sore hingga jam 10 malam karena dirinya sedang mengupayakan uang tersebut hingga malam dengan cara pinjam di bank.
Hj. Rannu mengaku, telah mendodol selama 8 bulan kebun sawit seluas 4 hektar dan tiba-tiba berubah jadi 3 hektar. “Kalau tidak mauko 3 hektar, kukasih kembali itu uangmu,” ujar Hj. Rannu menirukan Uwe Nanna seraya menjelaskan agar tidak dikembalikan karena uang yang dia pakai menggadai juga uang dipinjam di bank.
Saat ditanya kenapa video bisa beredar, Hj. Rannu menyebut seorang nama berisiap L yang memvideo dan mengedarkan video itu. “Saya sudah sembunyikan itu video, tapi ini L pergi nasebar-sebar, temannya ji juga Uwe Nanna,” ujarnya.
Sementara itu, Kadinsos Mateng Uwe Nanna atau Hj. Nirmalasari saat dikonfirmasi mengaku tidak tahu menahu soal video yang beredar dan persoalan gadai kebun sawit. “Saya tidak mau klarifikasi karena tidak tau videonya sumbernya darimana,” ujarnya.
Uwe Nanna juga menjelaskan, bahwa dirinya tidak pernah menggadai kebun sawit seluas 3 hektar. “Tidak ada, saya tidak ada konfirmasi sama sekali,” ujarnya seraya menantang jurnalis untuk mempertemukan pihak yang menyebar video tersebut.






