Renungan Bersama Para Alumni Hipermaju
MUHAMMAD YUSUF SH.MH
ALUMNI HIPERMAJU
AHipermaju bukan sekadar nama organisasi atau deretan struktur kelembagaan. Ia adalah ikrar, janji suci persaudaraan yang melampaui batas wilayah, batas jabatan, dan batas waktu. Ia adalah rumah tempat kita kembali, dan akar tempat kita tumbuh.
Satu Darah Melampaui Batas Wilayah
Meski hari ini kita tersebar, di Mamuju, Mamuju Tengah, maupun Pasangkayu, ingatlah bahwa di dalam nadi kita mengalir darah yang sama: darah To Mamuju, pemegang amanah yang teguh. “Mana’ Makarra” — Manakarra, amanah yang tak boleh diingkari, berakar di atas tanah pusaka yang telah diikrarkan sebagai Tampo Pembolongang: tanah tempat kita satu nasib, satu harapan, dan satu tujuan.
Kita adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan oleh garis peta. Inilah hakikat filosofi Manakarra yang sesungguhnya: menjadi pribadi yang kokoh, memegang teguh amanah, dan saling menguatkan tanpa memandang batas administratif. Kita tidak pernah benar-benar berpisah — karena akar kita sama.
Garda Depan di Tanah Rantau
Di mana pun kalian berada, di mana pun kalian mengabdi, kalian adalah garda depan nama baik daerah. Jangan biarkan ada saudara yang terjatuh tanpa uluran tangan. Jangan biarkan ada yang berjuang sendirian.
Tiga prinsip ini harus senantiasa hidup di antara kita:
Pertama. Saling menghidupi, tumbuh bersama, bukan saling menindih
Kedua. Saling melindungi, menjaga kehormatan sesama To Mamuju
Ke Tiga. Saling memajukan, keberhasilan satu adalah kebanggaan semua
Jika satu saudara berhasil, itu adalah tangga bagi yang lain untuk ikut naik. Begitulah esensi persaudaraan di atas tanah Mandar, di atas Anggatan Pembolongan To Mamuju Manurun Makkarama, kita naik bersama, atau tidak sama sekali.
Teladan dari Para Pendahulu
Kehadiran para alumni Hipermaju di berbagai posisi kepemimpinan, baik di daerah maupun di tingkat provinsi, adalah bukti nyata bahwa wadah ini adalah kawah candradimuka para pemimpin yang berkarakter. Sebagai Alumni, kita patut berbangga Dr.H.Suhardi Duka, SDK menduduki jabatan Gubernur. Jadikan itu kebanggaan sekaligus pembakar semangat: “Jika kakak-kakak kita bisa, kita pun pasti bisa.”
Puncak keberhasilan mereka bukan untuk dipuja, melainkan untuk dijadikan jembatan agar angkatan-angkatan berikutnya dapat melangkah lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih bermartabat.
Landasan Pemikiran: Kepentingan yang Menyatukan
Setiap gerak kehidupan — sosial maupun politik — bermuara pada satu hal: kepentingan. Namun kepentingan tidak harus memecah belah. Kepentingan justru dapat menjadi perekat, jika kita pahami dengan benar.
Seperti dikemukakan ilmuwan politik Arthur F. Bentley dalam The Process of Government (1908):
“Yang ada dalam kehidupan sosial bukanlah ide semata, melainkan kelompok-kelompok yang digerakkan oleh kepentingan bersama.”
Bagi kami para alumni, kepentingan bersama itu sangat jelas: memastikan setiap saudara dapat tumbuh, menggapai cita-cita, dan tidak ada yang tertinggal. Bukan kepentingan pribadi, bukan pula kepentingan golongan sempit — melainkan kepentingan kemajuan dan kesejahteraan seluruh keluarga besar To Mamuju. Kepentingan ini lahir dari amanah, dan akan kami perjuangkan dengan iktikad baik.
“Di Inne Mo Mincolli” Semua Harus Terbang
Pepatah Mandar Mamuju “Di inne mo mincolli” mengandung pesan moral yang dalam: semua harus siap lepas landas, semua harus terbang, tak ada satu pun yang tertinggal di landasan. Karena harapan yang sama menanti kita di tujuan yang akan dicapai bersama.
Marilah kita hidupkan semangat menggapai harapan menuju. “Allo Campalogana To Mamuju, Masagena Masannang” semoga To Mamuju Anak anak Mandar senantiasa bersatu, berbahagia, dan sejahtera. Semoga cita-cita ini mewujudkan Provinsi Sulawesi Barat yang Marenden, tenteram, aman, damai, harmonis. Maju, dan Sejahtera
Satu darah, satu rasa. Manurun memanggil — mari kita jaga.












