Oleh: Gita Zafitri, S.Pd.(Praktisi Pendidikan)
Gencatan senjata telah dilakukan pada tanggal 19 Januari 2025 tepatnya hari ahad. Aksi genosida yang dilakukan entitas yahudi sebelumnya telah berlangsung selama kurang lebih 15 bulan. Selama itu pula banyak warga Gaza yang menjadi korban dari genosida ini. Zionis Yahudi menciptakan bencana kemanusiaan yang parah, terbukti sebanyak 47.000 warga palestina tewas, mayoritas dari serangan ini adalah perempuan dan anak-anak serta ribuan lainnya hilang akibat reruntuhan yang menimpa mereka.
Sejak serangan pada tanggal 7 oktober 2023 lalu, Zionis menargetkan infrastruktur sipil dan meninggalkan wilayah tersebut dalam kehancuran. Menurut data dari pemerintah Gaza, pengeboman
selama lebih dari 470 hari telah menghancurkan infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, dan
tempat penampungan sehingga jutaan warga mengungsi.
Di Tengah ketegangan dan kekacauan yang sempat melanda gaza, tragedi kemanusiaan sangat tersorot
terutama dalam dunia pendidikan yang ada. Banyak sekolah dan universitas yang hancur akibat dari agresi militer yang berkepanjangan. Berdasarkan data UNICEF pada tanggal 15 Agustus 2024 lalu sebanyak 564 sekolah di Gaza hancur tak tersisa akibat serangan Israel. Memasuki hari ke-307 sekitar 1.549 fasilitas pendidikan seperti sekolah, TK, universitas, dan pusat pembelajaran, hancur atau mengalami kerusakan. Kondisi ini menyebabkan siswa yang berjumlah sekitar 760.062 orang terpaksa berhenti sekolah. detikNews.
Di tengah tragedi genosida yang berlangsung selama 307 hari, sektor pendidikan di Gaza mengalami
kehancuran besar-besaran. Sebanyak 117 sekolah hancur total dan 305 lainnya rusak membuat 760.062 siswa 100% dari total pelajar di Gaza kehilangan hak mereka untuk belajar. Universitas pun tak luput dari kehancuran, dengan 29 bangunan terdampak 7 di antaranya hancur
total dan 22 lainnya rusak sebagian. Akibatnya 86.841 mahasiswa kini tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka. Kehancuran ini menjadi simbol nyata betapa pendidikan sebagai harapan
masa depan Gaza direnggut secara paksa.
Sekolah dan universitas yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu, kini berubah menjadi tempat perlindungan bagi warga yang kehilangan segalanya. Salah satu contohnya adalah Sekolah
Al-Awda di Abasan Al-Kabira, dekat Khan Younis. Awalnya dianggap sebagai tempat yang aman, ternyata hancur pada 9 Juli 2024 akibat serangan udara pasukan Israel menghantam sekolah tersebut. Saat itu, pengungsi tengah menikmati momen bermain sepak bola di lapangan
sekolah. Namun, kedamaian itu berubah menjadi tragedi dengan 30 nyawa melayang dan 53 lainnya
terluka.
Serangan ini menjadi simbol kekejaman Zionis Yahudi bahkan di tempat yang seharusnya menjadi perlindungan terakhir bagi Warga Gaza. Parahnya, beberapa hari sebelum gencatan senjata dilakukan, kelompok Zionis kembali menyerang warga Gaza yang berlindung disalah satu sekolah Halwa di kota Jabalia, Gaza Utara. Sedikitnya 8 orang yang tewas 2 diantaranya adalah anak-anak. Walaupun perang yang masih berkecamuk di Gaza tidak menghalangi semangat anak-anak dan para guru untuk menuntut ilmu. Seperti yang dikutip di media ANTARA pada 10 Januari 2025. Di mana, para guru Palestina membuat ruang kelas darurat di kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak dan sederhana.
Perang di Gaza bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memutus mimpi anak-anak untuk
mendapatkan pendidikan pondasi utama bagi kebangkitan peradaban. Tragisnya, dunia dan lembaga internasional memilih bungkam, meskipun fakta tentang korban jiwa dan kerusakan fasilitas pendidikan terpampang jelas. Sikap abai ini bukan sekadar pengkhianatan terhadap Palestina, tetapi juga terhadap masa depan peradaban Islam. Seolah-olah harapan generasi mendatang tidak lagi menjadi perhatian. Bahkan Islam dijadikan musuh dunia. Masa depan anak-anak Palestina hanya dapat diselamatkan jika tirani Zionis berhasil dihancurkan.
Solusi nyata untuk pembebasan ini adalah jihad yang dipimpin oleh kekuatan sejati umat, yaitu tegaknya Khilafah. Hanya Khilafah yang mampu memobilisasi seluruh potensi umat, termasuk menggerakkan tentara dari negeri-negeri muslim untuk berjihad membebaskan Palestina. Lebih dari itu, Khilafah akan menjadi perisai yang menjaga kehormatan, nyawa, dan masa depan kaum Muslimin, termasuk anak-anak yang kini menjadi korban kekejaman. Dengan Khilafah, umat tidak lagi menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku perubahan menuju kemuliaan Islam dan kebebasan Palestina.
Khilafah juga menjamin pendidikan berkualitas dan gratis bagi generasi, sehingga akan lahir generasi
berkepribadian Islam, yang dengan kiprah mereka peradaban Islam akan terus terjaga kemuliaannya. Pendidikan tinggi dalam naungan Khilafah Islam bertujuan untuk mencetak generasi pemimpin
peradaban atau rijalul ghadd. Profil generasi muslim terbaik dibangun dengan pondasi dasar berupa iman dan akidah yang membentuk pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiah) yang berlandaskan
Islam.
Wallahu’alam Bishowab













