Oleh: Jajat Munadjat
Manuskrip yang dimaksudkan disini adalah karya tulis tangan “Mushaf Al Qur’an” yang sudah berusia ratusan tahun, yakni antara 200-an tahun hingga 400-an tahun;
Lokusnya berada di Banggae Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat;
Kosa kata “Banggae” adalah wilayah administratif kecamatan Banggae yang saat ini sudah mekar menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Banggae dan Kecamatan Banggae Timur yang berada di ibukota Kabupaten Majene, jadi kalau menyebut kota Majene maka yang dimaksudkan adalah dua wilayah kecamatan tersebut;
Berdasarkan referensi dari berbagai sumber, dan literasi yang ada, serta kesaksian langsung penulis, bahwa tercatat tidak kurang dari 3 mushaf Al Qur’an yang berusia ratusan tahun yang ada di Banggae Majene, antara lain:
- Mushaf Al Qur’an milik KH Syekh Abdul Mannan (pembawa Islam pertama di Banggae Majene Mandar), ukurannya: panjang x lebar x tebal (15,5 x 10 x 4) cm, dan usianya diperkirakan sudah 400-an tahun dengan mengacu pada sejarah KH Syekh Abdul Mannan yang memperkenalkan dan menyi’arkan Islam pertama di Banggae Majene Mandar sekira akhir abad XVI atau awal abad XVII, waktu itu berpusat di Salabose Banggae Majene; Saat ini mushaf tersebut disimpan baik oleh Imam Masjid Salabose ustadz H Muhammad Gaus (masih kerabat atau keluarga keturunan cicit buyut dari Syekh Abdul Mannan) yang tinggal di Salabose Banggae Majene;
- Mushaf Al Qur’an yang ditulis oleh KH Ahmad bin Asheh Al Qatib Umar, ukurannya: (43,5 x 28 x 7) cm, dan tercatat selesai ditulis pada tanggal 27 Rajab 1248 H atau bertepatan dengan tanggal 19 Desember 1832 M, maka dapat dihitung usianya sudah hampir 200 tahun untuk kalender hijriah atau berusia 194 tahun bila berdasar pada kalender masehi; Mushaf tersebut diketahui dimiliki oleh alm KH Abdullah Mubarak, dan saat ini masih tersimpan rapi dan aman oleh putra beliau atas nama ustadz Drs H Sufyan Mubarak SH MH (mantan KaKemenag Majene dan Mamuju, juga purna bakti dosen STAIN Majene) yang bermukim di Saleppa Banggae Majene;
- Mushaf Al Qur’an milik seorang warga di Banggae Timur, ukurannya (31,5 x 23 x 6) cm;
- Selain itu, ada juga yang disimpan rapi oleh Sdr Ahmad Nasir yang tinggal di Rusung Banggae Majene, yang usia mushaf diperkirakan juga sudah ratusan tahun;
- Dan yang lainnya ada di Pamboang Majene 1 mushaf yang disimpan oleh sdr Musraq, dan di Sendana Majene sebanyak 2 mushaf, masing masing di Pundau 1 mushaf dan 1 mushaf lainnya dimiliki oleh keluarga/ kerabat dari Bapak alm Muis Mandra;
Mushaf mushaf tertua yang ada di Majene sudah biasa dikunjungi oleh para pemerhati Islam untuk ingin menyaksikan langsung, demikian juga para penggiat literasi, mahasiswa, dan peneliti yang sengaja datang untuk menjadikannya sebagai obyek penelitian sejarah Islam, serta pihak pemerintahpun sudah hadir untuk membantu melestarikan benda atau manuskrip kuno dimaksud;
Patut kita memberikan apresiasi kepada komunitas anak muda baik aktivitas FGD (Focus Group Discussion) ataupun penggiat “Rumah Baca dan Museum Naskah I Manggeliwu” di Teppo Banggae Majene, yang telah menginisiasi dan menggandeng Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII SulTeng dan Sulbar di Palu untuk melakukan kegiatan “Pelestarian dan Alih Media Manuskrip” pada bulan September 2025 terhadap 6 obyek manuskrip tertua yang ada di Majene, yaitu: 3 manuskrip mushaf Al Qur’an di Banggae, 1 mushaf Al Qur’an di Pamboang, dan 2 mushaf Al Qur’an di Sendana; Mudah-mudahan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Majene, melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Kearsipan, kiranya dapat pula menduplikasi manuskrip dimaksud untuk ditampilkan di Museum Mandar Majene, sekaligus memfasilitasi perawatan dan pelestarian terhadap manuskrip mushaf Al Qur’an yang aslinya;
Lebih dari itu, kitapun dibuat kagum atas upaya suci oleh para ulama terdahulu yang telah menyusun mushaf Al Qur’an dengan tulis tangannya sendiri, kaligrafi seninya, hafalannya untuk muraja’ah, dan yang lainnya, sehingga tampl sebagai sebuah karya istimewa yang dapat memberikan legacy atas keulamaan dan kecintaannya akan Kalamullah berupa Mushaf Al Qur’an, dan semoga menjadi salahsatu amal jariahnya;
Teringatlah akan karya agung seorang ulama ternama sekaligus sebagai kaligrafer papan atas, yaitu Syekh Utsman Thaha (Utsman bin Abduh bin Husain bin Thaha al Halyabi) yang lahir di Aleppo Suriah pada Tahun 1934 M (usia beliau sekarang 91 tahun lebih); Tahun 1970 telah dipercaya oleh Kementrian Wakaf Suriah untuk menulis Mushaf Al Qur’an di negaranya yang dicetak dan digandakan; Kemudian pada Tahun 1973 telah memperoleh ijazah sebagai kaligrafer Internasional dari Syekh Hamid Aytac, dan pada Tahun 1988 pemerintah Arab Saudi merekrutnya menjadi penulis Mushaf Al Qur’an Madinah hingga saat ini, yang copy cetakannya sudah lebih 200 juta mushaf yang terdistribusi di seluruh dunia, termasuk yang terpajang dietalase Masjid Nabawi di Madinah, dan di rak rak elmari Masjidil Haram di Makkah, serta di masjid masjid lainnya di seluruh dunia;
Sekali lagi, sungguh kita menaruh hormat kepada seluruh pencinta Al Qur’an: penulis, kaligrafer, pembaca, pembelajar, pengkaji, penghafal, dan setiap person yang mengamalkan isi Al Qur’an, sehingga pada saatnya nanti akan menjadi generasi Qur’ani yang dapat menjalankan tugas keagamaan dengan sebaik baiknya sebagai khalifah dimuka bumi, Insya Allah;
Makassar, Januari 2026
Jajat Munadjat













