Oleh: Rahmi Surainah, M. Pd/alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin
Pasca Pemilu tanggal 14 Februari lalu menyisakan berbagai persolan di tengah masyarakat. Di antaranya ketidakpuasan hasil pemilu yang berbuntut kericuhan. Lihat saja kabar dari Kutai Timur, proses pemungutan suara di Kecamatan Sangatta Utara, berlangsung ricuh, Selasa (27/2). Tampak dalam pertemuan itu para saksi dan penyelenggara saling adu argumen. Kericuhan ini buntut perolehan selisih suara yang amat signifikan.
Ketua PPK Sangatta Utara, Sirajudin Takeama Maran mengatakan pihaknya bakal menyelesaikan perdebatan ini melalui kecocokan data. Ia juga menanggapi agar selisih tersebut ditunjukkan.
Demikianlah kericuhan yang terjadi di Kutim dan ini bisa terjadi di beberapa wilayah. Memang ketua KPU Kota Samarinda Firman Hidayat mengakui kerawanan pasca pemilu yang berpotensi tinggi terjadi ialah aksi demonstrasi oleh oknum caleg, simpatisan maupun tim pemenangan yang tidak menerima kekalahan. Materi gugatan umumnya menggunakan surat keputusan hasil rekapitulasi dari KPU. Selain adanya gugatan, pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil ini berpotensi akan melakukan demo.
Bukti Cacatnya Demokrasi
Pemilu telah berlalu, namun efeknya masih terasa. Ada yang menang dan kalah, tentunya ini permainan yang sudah diketahui akhirnya. Dugaan kecurangan yang berujung kericuhan bukan hanya terjadi kali ini. Tidak hanya tingkat lokal namun nasional.
Masyarakat pun sebenarnya bisa melihat dan merasakan fakta kecurangan sudah terjadi sebelum pemilu alias di masa kampanye. Tidak tabu bermain kotor alias curang dalam pemilu menandakan demokrasi memang cacat dari lahirnya. Tidak bisa dipungkiri Demokrasi lahir dari ideologi kapitalis sekuler, beragama tapi tidak dipakai dalam mengatur dunia politik.
Wajarlah pemenang dari hasil pemilu melahirkan sosok penguasa yang tidak merakyat, buktinya undang-undang dan kebijakan sering memuluskan para kapital. Tentu hal itu untuk balik modal karena utang budi saat kampanye yang tidak sedikit.
Kericuhan karena dugaan kecurangan menunjukkan cacatnya demokrasi yang seharusnya makin menyadarkan masyarakat untuk tidak berharap lagi pada sistem saat ini. Sistem kapitalisme cuh sudah saatnya ditinggalkan!
Perubahan dengan Islam
Rakyat Indonesia secara umum sangat berharap ada perubahan dengan kepemimpinan yang baru. Indonesia mayoritas muslim seharusnya menjadikan Islam sebagai pandangan hidup alias ideologi. Sudah saatnya kita sadar dan berubah akan buruknya sistem ideologi saat ini menjadi ideologi Islam.
Al-Quran mengingatkan bahwa nasib suatu kaum ditentukan oleh kemauan kaum itu sendiri untuk berubah.
“Sungguh Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (TQS ar-Ra’du [13]: 11).
Tidak akan pernah ada perubahan meskipun figur pemimpinnya sudah bergonta-ganti selama umat belum meninggalkan aturan-aturan dan ideologi selain Islam. Kehidupan yang lebih baik dan penuh berkah baru akan terjadi manakala umat ini berubah menuju iman dan takwa dengan menerapkan syariah Islam.
PR besar umat Muslim hari ini sesungguhnya adalah bagaimana menerapkan syariah Islam dalam kehidupan. Penerapan syariah Islam merupakan kewajiban, bukan sekadar pilihan. Sikap ini sekaligus menentukan keimanan seorang hamba.
Allah SWT juga memerintahkan kaum Muslim untuk menjalankan hukum-hukum-Nya. Sebaliknya, Allah melarang mereka mengikuti keinginan manusia untuk menerapkan hukum-hukum yang lain.
“Hendaklah kamu (Muhammad) memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu” (TQS al-Maidah [5]: 49).
Allah SWT telah berjanji manakala kaum Muslim telah bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan kepada Diri-Nya dengan menerapkan syariah Islam, maka Dia akan mendatangkan berbagai keberkahan kepada mereka. Allah SWT berfirman:
Andai saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Namun, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka karena perbuatan mereka itu (TQS al-A’raf [7]: 96).
Oleh karena mari kita bersegera menuju perubahan hakiki dengan Islam. Caranya dengan melepaskan diri dari hukum-hukum jahiliah menuju penerapan hukum-hukum Allah, yakni syariat Islam kaffah. Inilah kewajiban agung yang akan mengantarkan kita semua pada keberkahan hidup dunia dan akhirat.
Wallahu’allam…












