Oleh: Jajat Munadjat
(Pemerhati Agama, Sosial, dan Budaya)
Dalam tulisan sebelumnya (01), bahwa Ulama yang pertamakali membawa Islam di tanah Mandar sekira abad XVI – XVII Masehi yaitu: Syekh KH Abd Mannan To Salama di Salabose (Majene), Syekh KH Abd Karim Kamaluddin dan/ atau KH Bil Ma’ruf To Salama di Binuang (Polewali), Syekh KH Zakaria dan Raden Mas Suryo Adilogo Kapuang Jawa (Mamuju), maka generasi berikutnya pada abad ke XVIII – XIX Masehi, terkhusus ulama yang ada di Banggae Majene, dapat disebutkan sosok ulama ternama pada masa itu, antara lain:
- KH Adam, yang berasal dari keturunan bangsawan Bone, semasa remaja sudah mengembara dan menuntut ilmu keberbagai tempat hingga sampailah ke tanah suci Makkah dan bermukim di sana beberapa dekade; Setelah merasa cukup memadai ilmu yang diperoleh, maka termotivasilah untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu agama kepada ummat, utamanya ada regenerasi transfer knowlage keislaman dan keulamaan di nusantara; Akhirnya beliau kembali ke nusantara dan langsung ke tanah Mandar, tepatnya di kampung Saleppa di wilayah kerajaan Banggae kala itu; Masyarakatnya cukup welcome karena sudah mayoritas muslim berkat kehadiran tokoh ulama sebelumnya Syekh KH Abdul Mannan bersama murid-muridnya yang telah berhasil membina ummat, bahkan juga telah mengislamkan Raja Banggae ke-3 bernama I Moro dengan gelar Daengta di Masigi (I Moro adalah anak dari I Banggae atau Daengta di Milanto sebagai Raja Banggae ke-2, dan sebelumnya yang menjadi Raja Banggae ke-1 adalah I Salabose Daengta di Poralle), sehingga secara politis dan sosiologis sangatlah kondusif; Kemudian KH Adam mepersunting Hawadia (I Patting) putri penduduk asli Saleppa dari keturunan bangsawan Hadat di Banggae (kalangan Pa’bicara), sehingga bermukim dan menetaplah di Saleppa dengan menempati area lokasi bernama “Kappung” yang saat ini berada diarea pemukiman persegi empat: disisi Jl KH Adam (sisi Utara) – Jl Mayjen Azis Bustan (sisi Timur) – Jl Jend Gatot Subroto (sisi Selatan) – Jl KH Zainal Abidin (sisi Barat); Dan diarea itulah dibangun Mushollah hingga saat ini menjadi Masjid Saleppa dengan nama sekarang Masjid Raya Raudhatul Abidin (sempat menjadi Masjid Agung sebelum ada Masjid Agung Ilaikal Mashir sebagai Masjid Kabupaten), yang dibangun setelah keberadaan Masjid ke-1 Masjid Syekh Abdul Mannan di Salabose yang ada di wilayah Banggae Majene; Di masjid Saleppa itulah menjadi salahsatu pusat ibadah dan sentra pembinaan ummat pada masa itu, serta KH Adam yang menjadi Imam generasi ke-1 di Masjid Saleppa tersebut;
- KH Abdurrazak (Puang Buta), beliau adalah menantu KH Adam, sesuai penuturan para orangtua terdahulu dan melihat beberapa referensi lainnya seperti stamboom (silsilah) yang ada, bahwa KH Adam mempunyai anak 4 orang perempuan (Hj Saenab, Hj Saoda, Hj Rukiah, dan Hj Maemunah), anaknya yang bernama Hj Maemunah itulah dipersunting oleh KH Abdurrazak (sekira tahun 1890 M) juga adalah keturunan bangsawan Hadat (kalangan Pa’bicara) sekaligus sebagai seorang ulama yang menjadi generasi pelanjut, beliaulah yang menggantikan sepeninggal KH Adam dan menjadi Imam generasi ke-2 di Masjid Saleppa (Masjid Raya Raudhatul Abidin sekarang), dan juga dipercaya dan diangkat sebagai Kadhi di wilayah Kerajaan Banggae pada masanya; Selanjutnya bahwa dari keturunan KH Abdurrazak melahirkan 6 orang anak, diantaranya KH Abdullah dan KHM Yahya sebagai generasi ulama pelanjut yang bermukim di Manjopai Karama Tinambung (Balanipa) Polman; Salahseorang anak dari KH Abdullah bernama KH Zainal Abidin bin Abdullah juga kelak menjadi ulama yang berdomisili di Pekkabata Polewali, sedang salahsatu anak dari KHM Yahya bernama DR HM Nawawi Yahya menjadi ulama cendikia, desertasinya telah menjadi referensi utama di kampus Al Azhar Kairo, dengan topik Fiqhi Qurban, DR Nawawi Yahya telah menyelesaikan pendidikannya dari awal hingga doktoral di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, beliaulah tercatat sebagai generasi pertama orang Mandar yang menjadi mahasiswa di Al Azhar; Adapun anak KH Abdurrazak seperti disebutkan di atas sebanyak 6 orang, 3 laki-laki (Qasim, KH Abdullah, KHM Yahya) dan 3 perempuan (Rugayya, Fatimah, Isa), bahwa salahseorang putri beliau bernama Isa menikah dengan Sulaiman yang berdarah bangsawan Hadat juga, melahirkanlah beberapa anak, salahsatunya adalah KH Djalaluddin Sulaiman (ayahanda Drs KHM Idil Fithry MSi, Imam Masjid Agung Ilaikal Mashir Kab Majene, yang wafat tanggal 7 Oktober 2025);
- KH Abd Rasyid (Puang Kadhi Sidenreng), beliau adalah cucu dari KH Adam, karena anak KH Adam bernama Hj Zaenab menikah dengan HM Ali yang berdarah kerabat keluarga bangsawan Hadat Banggae (keturunan Pa’bicara), yang melahirkan KH Abd Rasyid, beliau adalah seorang ulama yang dikenal dengan sapaan Puang Kadhi Sidenreng (pernah menjadi Kadhi Sidenreng di tanah Bugis Sidrap setelah usai Kadhi di Banggae Majene), beliau pulalah sebagai generasi ke-3 Imam Masjid Saleppa (Masjid Raya Raudhatul Abidin); Sedangkan saudara perempuan KH Abd Rasyid bernama St Hadidjah menikah dengan Qasim (putra dari KH Abdurrazak) yang melahirkan seorang putra atas nama KH Abdullah Mubarak (ayahanda Drs H Mabruk Mubarak, mantan KakanDepag Majene dan Maros) yang menjadi generasi ulama pelanjut berikutnya, juga diangkat sebagai Imam Saleppa generasi ke-5 menggantikan KH Zainal Abidin (puang Matoa) sebagai Imam Saleppa generasi ke-4 sekaligus juga sebagai Kadhi Kerajaan Banggae jelang akhir masa pemerintahan kerajaan;
- Beberapa ulama lainnya yang ditengarai adalah murid murid dari para ulama pendahulu seperti murid murid Syech Abdul Mannan, KH Adam, KH Abdurrazak, dan lainnya yang eksis pada masa itu;
- Adapun ulama yang seangkatan dengan KH Abd Rasyid, akan dinarasikan tersendiri pada tulisan berikutnya (03), karena para ulama tersebut lahir sekira medio/akhir tahun 1800-an, lalu mengajar dan mengabdi pada dua masa (abad XIX hingga awal abad XX); (Bersambung)
Makassar, November 2025
Jajat MM













