SULBAR.99NEWS.ID, Selama puluhan tahun, sirkus identik dengan pertunjukan satwa liar: gajah yang menari, singa melompat melewati lingkaran api, hingga beruang yang bisa berdiri di atas sepeda. Namun, ada satu hewan yang hampir tak pernah terlihat di arena tersebut: serigala.
Menurut sejumlah pakar satwa, ada beberapa alasan utama di balik absennya hewan ini di dunia hiburan sirkus.
Pertama, serigala memiliki insting liar yang sangat kuat. Berbeda dengan anjing yang telah mengalami proses domestikasi selama ribuan tahun, serigala sulit sekali dilatih untuk mengikuti perintah manusia. Mereka lebih mengandalkan insting kawanan dan cenderung curiga terhadap perintah yang tak alami.
Kedua, faktor keselamatan menjadi pertimbangan penting. Serigala dikenal sangat protektif dan bisa menjadi agresif ketika merasa terancam. Dalam konteks pertunjukan sirkus yang ramai dengan penonton, musik keras, dan cahaya terang, hewan ini akan mudah merasa stres dan bereaksi tak terduga.
Ketiga, ada aspek etika dan regulasi. Dalam beberapa dekade terakhir, kesadaran masyarakat terhadap kesejahteraan satwa semakin meningkat. Hewan-hewan yang sulit beradaptasi dengan lingkungan buatan, seperti serigala, makin jarang diikutsertakan dalam atraksi hiburan.
“Serigala bukan hewan panggung. Mereka adalah bagian penting dari ekosistem liar yang harus dijaga keberadaannya di alam,” jelas seorang peneliti konservasi satwa.
Dengan alasan-alasan itu, mungkin kita memang tidak akan pernah melihat serigala beraksi di bawah lampu sorot sirkus. Namun, di hutan dan pegunungan tempat mereka hidup bebas, serigala tetap menjadi bintang pertunjukan sejati dalam rantai kehidupan alam liar. (*)












