OPINI  

Regenerasi Ulama di Banggae Majene Sulawesi Barat Masa Tahun 1950-an sd Sekarang (05 – Selesai)

Oleh: Jajat Munadjat

Seiring dengan berjalannya waktu mulai medio tahun 1900-an (pertengahan abad XX) hinggan awal tahun 2000-an (awal abad XXI), regenerasi terus berjalan secara alamiah dan juga terkader melalui ngaji ala klasik plus metode modern melalui sekolah, pesantren, dan kampus; Terdapat sejumlah ulama, pendidik, pembina pesantren, muballigh, da’i, aktivis keagamaan, paraktisi, dan lain lain, yang sudah mulai belajar secara modern di pesantren dalam daerah dan luar daerah, di kampus dalam negeri ataupun luar negeri, di samping belajar secara tradisional melalui ulama senior pendahulunya;

Selanjutnya dapat disebutkan beberapa ulama, pendidik, muballigh, praktisi dan penggiat sosial keagamaan, antara lain:

  1. Prof DR AG KH Syahabuddin (1937 – 2005), beliau lahir di Sepang, Kecamatan Limboro (sebelum pemekaran masuk Kecamatan Tinambung Kabupaten Polman Sulawesi Barat), dan sebelum kemerdakaan adalah bagian dari wilayah Kerajaan Balanipa Mandar; AG KH Sahabuddin dikenal sebagai ulama tasauf tarekat qadoriyah dan sebagai mursyid yang mendapatkan mandat dari sang guru KHM Saleh (annangguru Saleh di Majene) serta memperolleh restu dari Prof DR Syech Sayyid Muhammad Alwy Al Maliki Al Husainy di Makkah Arab Saudi; Selain itu beliaupun menjadi dosen tetap, maha guru, dan guru besar di UIN Alauddin Makassar, sempat menjadi dekan di IAIN Alauddin Makassar, Ambon dan Ternate; Juga membina pendidikan DDI di Polmas (Polewali dan Mamasa) sekarang Polman (Polewali Mandar), dan menginisiasi berdirinya Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) di Polman (Polewali Mandar) dan menjadi Rektor pertama, sekarang dilanjutkan oleh putri beliau sendiri atas nama DR Hj Huduriah Sahabuddin sebagai rektor; Putri yang lainnya ialah Prof DR Hj Wasilah Sahabuddin ST MT terpilih sebagai Direktur STAIN Majene Sulawesi Barat yang menjabat saat ini, sementara putranya atas nama DR KH Syibli Sahabuddin yang melanjutkan pengajaran tarekat qadoriyah di Polman;
  2. DR H Nawawi Yahya (1929 – 1982); Meskipun pembahasan ini harusnya pada tulisan (04) sebelumnya, namun terlewatkan makanya dicantumkan pada tulisan (05) sekarang; DR Syekh Muhammad Nawawi Yahya Al Mandary lebih separuh dari usianya berada di luar negeri, sejak remaja (usia sekira 18 tahun) sudah meninggalkan kampung halaman di Manjopai, Karama, Tinambung, Balanipa Mandar, dengan satu tekad ingin belajar dan mendalami ilmu Islam, kala itu selang terjadinya peristiwa “Westerling”, Nawawi Yahya merantau ke Sawitto Pinrang, Makassar, Jakarta, Jeddah, Makkah, Medinah, hingga ke Kairo Mesir, dan di Universitas Al Azharlah menempuh pendidikan formal di fakultas Syari’ah wa al Qanun, jurusan Fiqhi al Muqaran, mulai dari tingkat sarjana, lanjut pada tingkat yang setara dengan S2 hingga Doktoral atau S3, sementara madrasah Aliyah ditamatkan di Makkah Arab Saudi; Selama di Mesir sempat pula melanglang buana ke Timur Tengah (Arab Saudi, dll), hingga ke Eropa (Belanda, dll) bukan untuk pesiar tetapi mencari referensi tambahan yang relevan dengan penelitiannya; Judul desertasinya adalah tentang fiqhi zakat “Kotab al Zakah wa al Nudzum al Ijtimaiyah al Mu’ashirah” dengan jumlah halaman 3000 lebih yang terdiri dari 6 jilid (terkoreksi dalam tulisan 03 sebelumnya ketika menguraikan ayahandanya KHM Yahya, disebutkan topik desertasi DR Nawawi Yahya, tertulis tentang “fiqhi qurban”, seharusnya tentang “fiqhi zakat”); DR Nawawi Yahya Abdurrazak MA adalah putra dari KHM Yahya bin KH Abdurrazak asal Banggae Majene, ibundanya dari Balanipa sehingga menetaplah disana, paman beliaupun adalah seorang ulama bernama KH Abdullah yang juga berkeluarga dan menetap di Balanipa, sementara saudara sepupu yang juga ulama yang segenerasi adalah KH Zainal Abidin bin Abdullah di Pekkabata Polewali, KH Djalaluddin Sulaiman dan KH Abdullah Mubarak yang keduanya bermukim di Banggae Majene;
  3. KM Bachyt Fattah (1932 – 1989); Sama dengan poin 2 di atas, bahwa seharusnya diuraikan pada tulisan (04), makanya tetap dihadirkan di dalam tulisan (05) pada kesempatan ini; Beliau lahir dilingkungan keluarga ulama, ayahnya adalah seorang ulama bernama KHM Fattah bin As’ad, kakeknyapun adalah ulama masyhur yakni KHM As’ad bin Harun Al Rasyid (populer dengan nama KH Daeng), paman beliau juga adalah ulama yakni KH Ma’mun As’ad (ayahanda ustadz Aminuddin Ma’mun, wartawan senior di SulSel dan Sulbar, pernah juga sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia atau DMI Provinsi Sulbar); Paman yang lainnya juga adalah ulama terkenal di Majene atas nama KHM Djuaeni As’ad (ayahanda Prof DR KHM DR Nafis Djuaeni MA, Ketua Majelis Ulama Indonesia atau MUI Prov Sulbar yang menjabat saat ini); Adapun anak anak beliau sebanyak 8 orang semuanya sukses di bidangnya masing masing, antara lain: DR H Muflih Bachyt Fattah MM (mantan KaKanwil Kemenag Prov Sulbar dan Prov Gorontalo, sekarang sebagai pejabat struktural/ fungsional di UIN Alauddin Makassar), Hj Najmah Bachyt Fattah SAg MM (Ketua PKK Kab Majene/ isteri Bupati Majene saat ini atas nama DR H A Sukri Tammalele, SE MM), Hj Najibah Bachyt Fattah S Ag M Pd I (Ketua BKMT Kab Majene, juga sebagai pejabat struktural di Pemkab Majene), dan 5 orang saudara lainnya yang rata rata sudah S1 dan S2; KM Bachyt Fattah pernah menjadi Kepala KUA Kecamatan Banggae Kab Majene, disaat pensiun beliau juga pernah duduk sebagai anggota DPRD Kab Majene, dan aktivitas utamanya adalah muballigh/ penceramah papan atas yang biasa hadir di acara ormas, majelis taklim, dan di sejumlah masjid dalam kota Majene;
  4. DR AG KH Nur Husain (1945 – 2020); Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Ihyaul ‘Ulum DDI Baruga Majene bersama dengan ayah mertuanya KH Abd Hafidz (Annangguru Papi’), ia sangat disenangi oleh banyak ummat atau jama’ah karena materi dakwahnya aktual, bahasannya dalam, penyampaiannya sejuk dan mudah dipahami, retorikanya baik; Saat penulis duduk dibangku SMA sekira tahun 1979/1980 kami bersama teman teman pengurus OSIS mengundang beliau untuk mengisi acara Maulidan di sekolah, waktu itu ada 2 ulama yang diundang untuk memberikan tausiyah yakni KH Nur Husain dan KM Bachyt Fattah, keduanya sangat dikenal sebagai penceramah andalan pada masa itu; AG KH Nur Husain banyak berguru kepada ulama senior di tanah Mandar, Bugis, dan Makassar, dan juga menjadi mahasiswa dan alumni IAIN Alauddin Makassar; Aktivitas lain selain pengasuh pondok pesantren dan muballigh/ penda’i/ penceramah, juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Majene, terakhir adalah sebagai Ketua MUI Provinsi Sulawesi Barat hingga beliau wafat di Medinah karena sakit sewaktu melaksanakan ibadah Umroh pada tahun 2020 yang lalu;
  5. Drs AG KH Syauqaddin Gani (1948 – 2024); Beliau adalah Imam tetap Masjid Raya Raudhatul Abidin di Saleppa Banggae Majene sebagai generasi ke-6 setelah Imam generasi ke-5 KH Abdullah Mubarak; Beliau lahir di Desa Pambusuang Kec Tinambung Kab Polman Prov Sulbar, Pambusuang dikenal banyak melahirkan ulama dan tokoh, seperti KHM Tahir atau Imam Lapeo (masih kerabat dengan KH Syauqaddin), Annangguru Saleh atau KHM Saleh, Prof DR H Baharuddin Lopa SH, Prof DR H Muchtar Husain, dan yang lainnya; Sejak remaja beliau sudah banyak belajar di Pambusuang, di Banggae Majene ketika belajar di sekolah PGA Majene, dan juga kepada ulama senior yang ada pada saat itu, kemudian lanjut ke IAIN Alauddin, dan juga sering mewakili kontingen MTQ Kab Majene tingkat dewasa, sebagai catatan khusus bahwa waktu itu yang yunior adalah Hasan dan Husain (saudara kembar), serta ustadz H Hasan Basri yang tembus mewakili SulSel, dan terpilih menjadi Qari’ Nasional, bahkan menjadi jawara tingkat Internasional, tercatatlah sebagai Qari’ Internasional mengikuti jejak ustadz H Muhammadong dari Pinrang; Aktivitas lain Annangguru Kiyai Syauqaddin selain menjadi PNS di kantor Depag Majene juga sering menjadi pembimbing haji di kabupaten Majene, bahkan setelah pensiun beliau intens membimbing jama’ah haji sebagai KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) yang bermitra dengan Depag (urusan haji), tercatat pembimbing haji mandiri di Majene: Drs AG KH Syauqaddin Gani, ustadz KH Husain Unding Lc, dan ustadz Drs H M Ishak Katjo (ketiganya sudah almarhum); Metode dakwah KH Syauqaddin agak klasik sama seperti ulama senior pada umumnya, yakni dengan pembahasan kitab kuning (kitab gundul), membaca nash, tafsiran dan pendapat ulama, lalu dijelaskan dalam bahasa Indonesia kadang diselingi bahasa daerah Mandar dengan slang ala Pambusuang;
  6. Ustadz KH Husain Unding Lc; Beliau berasal dari Desa Tande Kec Banggae (sekarang Kel Tande Kec Banggae Timur), orangtuanya taat beragama dan menetap di Saleppa Banggae Majene, sehingga sejak awal ustadz Husain sering sholat berjamaah di masjid Saleppa atau masjid raya raudhatul abidin, dan biasa menjadi imam untuk sholat berjama’ah ketika imam tetap dan imam rawatib berhalangan hadir di masjid dimaksud; Menyebut Tande pasti warga Majene tahu dan orang Mandar secara umum, bahwa disana tanahnya subur untuk perkebunan, misalnya buah langsat/ lasse’ yang melegenda “lasse’ bambanna to tande” yang buahnya sangat manis sehingga terciptalah satu syair dan bait sebuah lagu klasik mandar yang sangat populer; Bukan cuma tanahnya yang subur SDMnya pun berkualitas, hingga saat ini banyak yang sukses dan berhasil diberbagai bidang dan profesi, seperti: guru, dosen, mahaguru, praktisi di pemerintahan, di perbankan, jadi pedagang, pengemban, dokter, insinyur, dan sebagainya, serta tentunya ada ulama dan penggiat keagamaan; Ustadz KH Husain Unding Lc dikenal aktif berceramah dan secara rutin menjadi pembimbing haji setiap musim haji tiba, beliaupun aktif berorganisasi dan dipercaya sebagai Ketua Pengurus Muhammadiyah Kab Majene pada masanya hingga beliau wafat;
  7. Ustadz H Nasaruddin Rachim; Beliau berasal dari Baruga Banggae Majene, yang dikenal banyak melahirkan ulama, ustadz, da’i, muballigh dan penggiat agama; Ayahnya adalah KH Abd Rachim seorang imam dan ulama; Ustadz Drs H Nazaruddin dalam setiap ceramahnya diselingi narasi humor dan pas banget, apalagi bila disampaikan dalam bahasa daerah mandar, jema’ah banyak yang suka dan senang akan materi dakwahnya; Orangnya sangat santun, tawadhu’, dan low profile, itu terlihat dari keseharianya, interaksi dengan masyarakat, dakwahnya boleh dikata berbobot dan oke dimata jama’ah:
  8. Dan beberapa orang lainnya seperti: almarhum ustadz Drs KHM Idil Fithry MSi (Imam Besar Masjid Ilaikal Mashir Majene), alm ustadz H Syarifuddin Nurdin BA (Da’i), dan sejumlah muballigh lainnya yang sudah almarhum; Demikian halnya para pejabat Depag/ Kemenag tingkat kabupaten Majene, sebutlah misalnya: alm Drs H Mabruk Mubarak mantan KaKanDepAg Majene dan Maros, Drs H Syamsir Abu (mantan Kakandepag Majene dan saat ini masih aktif sebagai penggiat keagamaan), Ustadz Drs H Sufyan Mubarak, SH MH (mantan Kakankemenag Majene dan Mamuju, serta purna bakti dosen STAIN Majene, saat ini masih aktif berdakwah di masjid masjid), dan yang sesudahnya ataupun yang sebelumnya, juga para Ka KUA Kec Banggae dan Banggae Timur, antara lain: ustadz M Tanwir, dan beberapa pejabat sebelumnya ataupun yang sesudahnya yaitu ustadz Drs H Adnan Mubarak yang telah berhasil menjadi KUA percontohan se SulSel pada tahun 2003 bersama runner up KUA dari Kab Jeneponto dan peringkat ketiga KUA dari Kab Pinrang, dan ketiganya diundang ke Jakarta menghadiri dan menyaksikan Sidang Umum DPR/MPR RI di Senayan pada tgl 16 Agustus 2003 dan perayaan detik detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara pada tgl 17 Agustus 2003, serta bagi peringkat satu an ustadz H Adnan Mubarak ditetapkan menjadi petugas haji kab majene tahun 2003/ 2004 sebagai award ataupun reward dari pemerintah; Begitu halnya para pimpinan ormas Islam (NU, Muhammadiyah, DDI, dll), pendiri dan pengasuh pondok pesantren Lampoko Polman (alm H Zikir asal Tande Banggae Majene), pengasuh pesantren DDI di Baruga Banggae Majene, para pendidik pesantren Darul Ulum Asy’ariyah di Saleppa Banggae Majene, dan pembina/pengasuh/pendidik pesantren Miftahul Jihad di Tande Banggae Timur Majene, serta beberapa komunitas lainnya seperti Majelis Taklim, TPA Al Qur’an, dll yang juga telah banyak berkontribusi pada pembinaan ummat dan syi’ar Islam;
  9. DR AG KH Ilham Saleh (1960 – Sekarang); Beliau adalah putra dari seorang ulama besar di Banggae Majene yakni KHM Saleh (Annangguru Saleh), iapun pelanjut guru tasauf atau mursyid tarikat Qadariyah, dan saat ini juga sebagai pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Al Asy Ariyyah (Syekh AG KHM Saleh) di Saleppa Bangge Majene, selain itu juga sebagai Imam tetap Masjid Raya Raudhatul Abidin di Saleppa (generasi ke-7 setelah Imam tetap generasi ke-6 Alm Drs AG KH Syauqaddin Gani yang wafat tahun 2024 yang lalu); Setelah tammat PGA 4/6 Tahun di Majene lanjut kuliah di IAIN Alauddin Ujungpandang (sekarang UIN Alauddin Makassar), dan sekira tahun 1984 berangkatlah ke Arab Saudi untuk menuntut ilmu, bukannya di perguruan tinggi atau universitas yang ada disana, tetapi beliau belajar langsung ke para ulama atau Syeikh yang ada di Madinah dan Makkah, antara lain: Syekh al Muhaddits as Sayyid Muhammad Alawi al Maliki, Syekh Abdullah al Lahaji, Syekh Abdullah Dardum, dan yang lainnya; Sepulang dari Arab ia melanjutkan pendidikan pasca sarjana hingga doctoral di UIN Alauddin Makassar, dengan desertasi berjudul “Nafs dalam Al Qur’an (Suatu Kajian Tasauf)”, dan beliaupun sudah menjadi dosen tetap pada Fakultas Adab di almamaternya UIN Alauddin;
  10. DR Drs AG KH A Majid Djalaluddin Lc MH; Beliau adalah putra ulama besar di Tinambung Balanipa Polewali Mandar atas nama AG KH Djalaluddin, dan putranya yang lain adalah alm Prof DR Dahnial Djalaluddin Lc (guru besar UIN Alauddin Makassar), dan alm Prof DR Mawardi Djalaluddin Lc MAg (guru besar STAIN Majene); AG KH Majid adalah hakim agama, terakhir sebagai Ketua Pengadilan Agama Raha di Muna Baubau Sulawesi Tenggara; Setelah beliau purna bakti, kembalilah ke Majene sebagai imam tetap Masjid Nurul Abrar di Binanga Banggae Timur, beliaupun dipercaya sebagai Ketua Baznas dan Ketua MUI Kab Majene hingga sekarang;
  11. Sebenarnya masih ada sejumlah ulama, pendidik, maha guru, guru besar, penda’i, penggiat agama yang eksis hingga saat ini, antara lain: Prof DR KHM Nafis MA (Ketua MUI Prov Sulbar dan mantan Ketua STAIN Majene yang pertama), DR AG KH A Tamaruddin (Imam masjid dan dosen agama di UnSulbar Majene), DR H Muflih Bachyt Fattah (mantan Kakanwil Kemenag Prov Sulbar dan Prov Gorontalo), ustadz Drs H Bahuddin Latif, ustadz Drs H Asraruddin Siradjuddin, ustadz Drs H Hasri Hanafi MPdI, ustadz DR Nursalim Ismail (asal Baruga yang aktif di LDNU Mamuju, dan biasa mengudara di RRI dan Podcast Mamuju), ustadz AG KH Abd Karim Jufri SPdI, ustadz AG KH Munu Kamaluddin SPdI, ustadz AG KH Abd Rasyid Azis, ustadz DR Muhammad Said M Th I, ustadz Drs M Jufri Marzuki MPd (biasa live dari masjid nurul hidayah tanjong batu Banggae Timur Majene dan tayang difacebook dan youtube), serta yang lainnya;
Baca Juga  Menjemput “Emas Hijau” di Pesisir MamujuTransformasi Ekosistem Menjadi Aset Fiskal Daerah

Itulah list para ulama, pendidik, pembina pondok pesantren, muballigh atau para penda’i, serta penggiat keagamaan yang ada di Banggae Majene dalam abad ke XXI ini, tentunya masih banyak yang belum terlist karena berbagai keterbatasan penulis, namun yang pasti bahwa kehadiran para pewaris nabi, dan para mujahid yang banyak berperan aktif ditengah tengah masyarat dan khususnya komunitas ummat Islam yang ada di Majene, mudah mudahan tetap istiqomah, senantiasa mendapatkan rahmat, taufik dan hidyah dari Allah Azza Wajalla; Regenerasi akan terus berjalan baik secara natural maupun melalui kaderisasi; Selama tahun 2000-an hingga 2090-an nanti akan lahir lagi beberapa generasi dengan segala tantangan terutama perkembangan teknologi informasi atau Information Technology (IT) dan penggunaan Artificial Intelligence (AI) serta media sosial (medsos) yang terus berinovasi seperti: Telegram, WhatsApp (WA), Twitter (X), Facebook (FB), Instagram (IG), YouTube, Tik Tok, dan lain sebagainya;

Baca Juga  SDK-JSM "Tilantiq Tongan Mi Tau, Kambe"

Demikian, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat adanya, Amin;

Makassar, Desember 2025

Jajat MM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *