Majene, Sulbar.99news.id—-Satuan Kerja (Satker) Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Wilayah I, Arief Budiman Armin, menyampaikan klarifikasi terkait kondisi jalur trans Sulawesi, tepatnya ruas jalan di Kelurahan Rangas, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, yang menjadi sorotan publik dan ramai jadi perbincangan di media sosial.
Menurut Arief Budiman, bahwa kerusakan berupa retakan pada sambungan antara bahu jalan dan lapisan aspal memang terjadi, namun katanya hal tersebut bukan disebabkan karena kesalahan konstruksi, melainkan disebabkan faktor alam yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir.
“Jadi keretakan yang terjadi itu setelah kami lakukan investigasi di lapangan, itu akibat karena faktor alam yang belakang ini terjadi di Majene, seperti hujan yang cukup tinggi dan terus-menerus. Air hujan yang terakumulasi di lereng bagian atas menyebabkan terjadinya longsor,” terang Arief. kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (9/1/2026).
Arief menyebutkan, longsoran tanah dari lereng tersebut juga mendorong struktur di bawah badan jalan. Selain itu juga terjadi adanya tekanan longsoran dari bawah tanah yang kemudian memicu terjadinya retakan pada permukaan jalan, terama pada sambungan antara bahu jalan dan aspal.

“Itulah kenapa terjadi ada keretakan, karena struktur borpail atau tiang pancang yang terpasang sebanyak 81 tiang berfungsi dengan baik, artinya borpail itulah yang menahan pergerakan tanah agar tidak terjadi longsor, kalau tidak ada penahan dampaknya akan jauh lebih buruk. Bisa saja longsoran menutup badan jalan atau bahkan menyebabkan badan jalan bergeser ke arah laut,” ujarnnya.
Ia juga menyampaikan, sebagai langkah tindak lanjut, pihaknya sudah melakukan perbaikan jalan yang retak, agar tidak bertambah parah agar tidak membahayakan para pengguna jalan yang melintas.
“Kami sudah melakukan perbaikan pada retakan-retakan tersebut supaya kondisi jalan tetap aman dan tidak membahayakan masyarakat. Disamping itu dalam penanganan permanen, pihaknya telah melakukan berbagai kajian alternative, dan kemudian antin akan dipilih metode penanganan yang paling optimal dengan mempertimbangkan berbagai aspek,” ujarnya.(Ali).













