Koltim, Sulbar.99news.id—Salah seorang tokoh masyarakat (Tomas) Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara H.A.Amiruddin menanggapi pernyataan yang dilontarkan oleh salah seorang timses bacagub Sultra Andi Sumagerukka yang viral dimedia sosial belum lama ini.
Menurut H.Amiruddin, apa yang dilontarkan oleh timses bacagub Sultra Andi Sumangerukka sangat keliru dan bisa menimbulkan perpecahan antar suku di Sulawesi Tenggara, kerena menurutnya kata-kata yang dilontarkan timses ASR bisa melukai perasaan putra daerah Sultra.
“Saya pribadi sebagai masyarakat Sulsel/Bugis/Makasar yang hidup lebih setengah abad di Sultra..menyesalkan Pernyataan Tim Sukses dari ASR Bakal calon Gubernur Sulawesi Tenggara yang berasal dari Suku Bugis karena telah melecehkan Peran dan Keberhasilan mantan-mantan gubernur putra daerah Sultra yangg mengatakan tidak berprestasi dan tidak memperhatikan kepentingan Masyarakat,” ungkapnya.
Apalagi kata H.Amiruddin, dalam orasinya timses ASR juga menyebut, bahwa lebih baik orang Belanda tapi diperahtikan masyarakat dari pada putra daerah tapi mengabaikan masyarakat dan kenapa mempertahankan putra daerah kalau tidak memperhatiakn masyarakat.
“Pernyatan tersebut seakan-akan lebih baik Belanda/Pendatang dari pada Putra Daerah yang mengabaikan masyarakat..ini adalalah pelecehan terhadap tokoh-tokoh putra daerah Sulawesi Tenggara dan mengandung provokatif yang ingin membenturkan kami pendatang dari suku Bugis yang selama ini hidup damai dn tentram di Sultra,” tegas Amiruddin.
H.Amiruddin juga mengatakan, bahwa seharusnya berterima kasih pada masyarakat Sultra yang telah menerima masyarakat luar daerah hidup damai mencari nafkah di kampung mereka..tokoh-tokoh mantan Gubernur Putra Daerah yang di lecehkan oleh timx ASR adalah semua putra-putra daerah yang menjadi panutan rakyat Sultra.
“Jadi menurut saya merendahkan dan menjatuhkan martabat mereka sama halnya telah menghina 5 suku putra daerah Sultra yaitu Buton, Muna,Tolaki, Mekongga dn Murnene..kiranya kepada aparat keamanan untuk segera menangkap provokator tersebut sebelum memicu kerawanan dan konflik antar etnis di Sultra yang hidup damai ini, sudah seyogyanya kita pendatang tau diri selama ini kita hidup tenang dan tentram berdampingan dengan rakyat Sultra yang begitu ramah dan terbuka menerima kita untuk berusaha membina ekonomi di daerah ini,” ujarnya.
Bahkan lanjut H.Amiruddin, sebagai masyarakat luar daerah ia sebagai pendatang telah di berikan ruang seluas-luasnya oelh masayarakat Sultra, olehnya itu ia berharap agar jangan kedamaian ini di nodai hanya karena ambisi ingin menguasai Sultra dari aspek Politiknya, kalau itu terjadi lalu apa bedanya kehadiran kita sama hadirnya penjajah dalam skala daerah.
“Ingat figur gubernur adalah simbol dari daerah yang di pimpinnya, makanya diharapkan putra daerah harus tampil di sana apapun alasannya dan yang merasa pendatang minggir dan tau diri..contoh di Papua, Maluku, NTT dan NTB dn daerah lainnya gubernurnya putra daerah dan wakilnya silahkan figur pendatang berperan sepanjan punya kontribusi utuk pembangunan daerah, jangan demi kepentingan ambisi politik kita mengabaikan nilai-nilai etika dan kepatutan toleransi diantara kita,” pungkasnya.(Ali)..












