Upaya Tingkatkan Produktifitas, Dosen Unsulbar Perkenalkan Inovasi Pengasapan Ikan Terbang

SULBAR99NEWS.COM, MAJENE – Tim Pengabdian Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menciptakan teknologi tepat guna bagi masyarakat nelayan di Somba Kelurahan Mosso Kecamatan Sendana Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Sabtu (26/8/2023).

Dalam Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang dilakukan Dosen Perikanan Unsulbar dan Universitas Hasanuddin (Unhas) itu, alat pengasapan ikan terbang diperkenalkan, inovasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan produksi ikan terbang asap warga sekitar.

Ketua Tim PDB, Muhammad Nur mengatakan, alat pengasapan tepat guna ini punya sejumlah keunggulan dibanding menggunakan tungku tradisional yang digunakan sebelumnya, alat ini menggunakan bahan bakar dari kayu yang jauh lebih sedikit dan waktu pengasapan yang lebih singkat.

Baca Juga  Pakar Hadis Tarbawi Hadir, Halalbihalal Muhammadiyah Sulbar Juga Ungkap Sejarah Awal Persyarikatan di Mandar

“Ikan yang diasapi lebih banyak, hasil yang dihasilkan produk ikan terbang asap lebih higienis, memiliki penampakan yang lebih menarik, ikan terbang asap lebih cepat matang, kemudian hasilnya lebih bagus dibanding dengan sebelum menggunakan alat ini,” kata Muhammad Nur.

Tujuan utama inovasi ini, kata Nur, untuk meningkatkan produktivitas warga yang sehari-harinya menggantung nasib dengan produksi ikan terbang asap.

Baca Juga  Pagelaran Wayang Kulit Cakraningrat Live Dari Mabes Polri, Polres Majene Nobar

“Dengan adanya inovasi ini diharapakan dapat meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat,” lanjutnya.

Dalam PDB ini, ada 2 inovasi yang diperkenalkan, yaitu alat pengasapan dengan produksi besar dan alat pengasapan ukuran lebih kecil, alat dengan ukuran lebih kecil ini diperuntukkan bagi warung ikan terbang asap di Labuang, Kelurahan Mosso.

Sementara itu, seorang warga, Zainuddin mengatakan, sebelum menggunakan alat ini, butuh waktu 2 jam dalam mengasap 100 ikan terbang, dengan alat ini, waktu pengasapan hanya 1 jam lebih dengan membutuhkan bahan bakar kayu yang jauh lebih sedikit.

Baca Juga  Wakaf Tanah di Majene Senilai Rp 2 Milyar Diterima Muhammadiyah 

“Lebih baik, kayu sedikit saja kita pakai, dan juga lebih cepat masak dari pada yang dulu. Itu keunggulan yang bisa kita rasakan. Asapnya beda juga, soalnya alat kita pakai dulu itu tidak sama, asapnya kemana-mana. Kalau ini tidak, ada cerobong asapnya. Jadi tidak mengganggu tetangga,” kata Zainuddin.

(Indra Saputra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *