Kebakaran Lahan Kembali Terjadi, Masyarakat Waspada Api Mendekati Permukiman

SULBAR99NEWS.COM, MAJENE – Kebakaran Hutan dan Lahan atau Karhutla seluas 4 hektar terjadi di wilayah Kabupaten Majene, Kecamatan Banggae, kali ini kebakaran terjadi di Rangas Pa’besoang dan Timur, Minggu (20/8/2023).

Api pertama kali dilihat oleh masyarakat pada pukul 19.30 Wita, kejadian Kebakaran terkonfirmasi bahwa yang terbakar merupakan lahan kosong, belum diketahui penyebab kebakaran tersebut namun saat terjadi kebakaran wilayah Kecamatan Banggae beberapa hari tidak turun hujan.

Baca Juga  Poso Kembali Diguncang Gempa Magnitudo 6,0, Warga Dibuat Panik

Setelah menerima laporan dari masyarakat, personil dari Damkar Majene langsung menuju ke TKK, turut serta BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan PSC 119 Majene, Bhabinsa Kodim 1401 Majene, Anggota Bhabinkambtibmas Polres Majene, petugas yang tiba dilokasi pun langsung melakukan penyisiran di area kebakaran, memeriksa titik-titik api yang masih terlihat, kemudian melakukan penyiraman dan pendinginan di area tersebut dan area dekat pemukiman warga.

Baca Juga  Peringatan Dini Cuaca 4-6 Oktober 2025, BPBD Sulbar Ingatkan Warga Tetap Waspada Potensi Bencana

Petugas Damkar terkendala oleh medan yang sulit, api juga hampir mendekati salah satu bangun yang ada dilokasi, hingga membuat panik masyarakat.

“Kebakaran lahan ini sama seperti hari sebelumnya, tetapi ini sudah mendekati ke permukiman warga, karena luas yang terkena dampak kebakaran ini sekitar 4 sampai 5 hektar,” Ucap Aslan, Ketua PSC 119 Majene.

“Mengingat potensi kebakaran hutan dan lahan selalu ada akibat cuaca panas yang menyebabkan daun, ranting dan lainnya kering, maka dihimbau masyarakat tidak membuang puntung rokok sembarangan, termasuk tidak melakukan pembakaran saat mengelola lahan, untuk mencegah kebakaran”, pungkas Aslan

Baca Juga  Hari Ini, Lima Kabupaten di Sulbar Berpotensi Dilanda Cuaca Ekstrem Hingga Longsor

Aslan melanjutkan, semua pihak perlu mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan yang lebih tinggi pada 2023 dibandingkan 2020, 2021 maupun 2022 yang kemaraunya bersifat basah.

(Indra Saputra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *