OPINI  

Peringatan Maulid Nabi ﷺ : Momentum Pembuktian Cinta Secara Totalitas

Oleh. Amnina el Humaira
(Pengajar SAT Wildan Majene)

Bulan Rabiul Awal adalah bulan yang teristimewa. Bulan yang dari awal hingga penghujungnya menyuguhkan kebaikan berlapis-lapis, dan barokah yang berlimpah ruah. Bagaimana tidak, di bulan inilah lahir seorang manusia mulia. Dialah Nabi Muhammad ﷺ, insan pilihan pembawa risalah Islam yang sempurna. Hadirnya menjadi penerang jiwa. Menjadi cahaya yang mampu menyinari gelapnya dunia. Menjadi rahmat yang menebarkan cinta bagi semesta. Dialah Rasulullah Muhammad ﷺ teladan terbaik sepanjang masa.

Bukan Kelahiran Biasa

Kelahiran Baginda Nabi Muhammad ﷺ bukanlah kelahiran biasa. Melainkan sebuah kelahiran luar biasa yang pernah ada. Saat dilahirkan ke dunia, Nabi Muhammad ﷺ meletakkan kedua tangannya di bumi, sedang kepalanya dihadapkan ke langit. Ketika masih berada dalam kandungan ibunya, keluarlah cahaya yang sinarnya menerangi Istana Busra di Syam. Tidak hanya itu, bahkan api abadi sesembahan kaum Majusi yang telah menyala selama ratusan tahun, tiba-tiba padam dalam sekejap. Meninggalkan beribu ketakutan di dalam hati dan benak kaum Majusi.

Nabi Muhammad ﷺ lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah. Bertepatan dengan peristiwa Pasukan Gajah Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah. Namun, sebelum memasuki kota Makkah, pasukan tersebut luluh lantak dan tercerai-berai diserang ribuan burung Ababil yang menghujani mereka dengan batu-batu kerikil yang panas. Burung-burung kecil yang dipandang lemah itu, nyatanya dengan izin Allah mampu memporak-porandakan seluruh pasukan bergajah Raja Abrahah yang pongah.

Berbagai peristiwa luar biasa yang menghentak alam berpikir manusia biasa, tentu penting untuk kita saksamai pesan tersirat di baliknya. Tidak salah lagi, rentetan peristiwa dahsyat itu adalah tanda akan terbitnya fajar kemuliaan yang akan menaungi langit dan bumi dengan lahirnya manusia pilihan. Beliaulah Rasulullah Muhammad ﷺ Sang pembawa risalah Islam yang Agung. Kelak dengan dakwah dan jihad yang beliau teladankan, tegaklah peradaban Islam yang gemilang.

Sayembara Cinta Shalahudin Al-Ayyubi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ pertama kali diteladankan oleh Shalahuddin al-Ayyubi dengan mengadakan sayembara penulisan riwayat Nabi Muhammad ﷺ diiringi lantunan puji-pujian untuk Nabi dengan gaya bahasa dan sastra Arab yang indah. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi bergengsi pembuktian cinta pada sang Nabi tersebut. Dan terpilihlah Syaikh Ja’far Al-Barzanji sebagai pemenang dengan karya besarnya bagi umat Islam yang masyhur hingga hari ini, yakni kitab “Barzanji”.

Baca Juga  Regenerasi Ulama di Banggae Majene Sulawesi Barat Masa Tahun 1950-an sd Sekarang (05 - Selesai)

Shalahuddin al-Ayyubi menjadikan Maulid Nabi ﷺ sebagai momentum untuk mengobarkan kembali semangat jihad dan perlawanan di tengah kaum Muslim. Saat itu kaum Muslim sedang berjuang mempertahankan diri dari serangan tentara sekutu Eropa, yakni Inggris, Prancis, dan Jerman. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Perang Salib. Tentara salib Eropa berhasil merebut Yerusalem dan mengubah fungsi Masjidil Aqsa menjadi gereja pada tahun 1099 M.

Sebagai penguasa Haramayn (Dua Tanah Suci, Makkah dan Madinah) Sultan Salahuddin mengeluarkan instruksi kepada seluruh jamaah haji, agar ketika kembali ke kampung halaman masing-masing mereka mensosialisasikan kepada masyarakat Islam yang mereka temui bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) yakni tanggal 12 Rabiul Awal dirayakan sebagai Hari Maulid Nabi. Hal ini membuat semangat kaum Muslim kembali bergelora menghadapi Perang Salib. Sultan Salahuddin pun berhasil menghimpun kekuatan kaum Muslim. Akhirnya, pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa kembali ke pangkuan kaum Muslim sebagai masjid suci yang dibanggakan.

Teladan Terbaik Sepanjang Masa

Mengenang kelahiran Nabi ﷺ, idealnya kita maknai sebagai momentum meneladani Rasulullah ﷺ dalam segala aspek kehidupan. Sungguh dalam diri Rasulullah ﷺ terdapat suri teladan terbaik untuk kita contoh, baik dalam berkeluarga, bahkan dalam memimpin masyarakat dan negara. Beliau ibarat permata yang indah bersinar. Dipandang dari sisi mana saja beliau memancarkan cahaya berkilau yang indah menyejukkan hati.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Ahzab ayat 21:

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah ﷺ suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan dia banyak menyebut nama Allah.”

Baginda Nabi ﷺ adalah manusia pemilik akhlak terbaik lagi sempurna. Aisyah ra. menyebut akhlak Baginda Nabi sebagai Al-Qur’an yang berjalan. Aisyah ra. juga menuturkan, “Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Beliau tidak pernah berbuat keji. Tidak pernah berkata-kata kotor. Tidak pernah membalas kejelekan dengan kejelekan. Akan tetapi, beliau seorang yang pemaaf dan pengampun.”

Baca Juga  Komitmen Indonesia Nol Emisi Karbon 2060 Melalui Sulbar “Sepekan Menanam Mangrove”

Tak mengherankan jika sosok manusia termulia ini secara jujur diakui oleh Dr. Michael H. Hart, sejarawan Barat penulis buku “The 100, A Ranking of The Most Influential Person in History” Hart menulis,

“Pilihanku menempatkan Muhammad di urutan pertama dalam daftar orang yang paling penting dan berpengaruh dalam sejarah mungkin akan mengejutkan pembaca. Akan tetapi, dialah satu-satunya manusia dalam sejarah yang telah merengkuh keberhasilan tertinggi dalam aspek agama dan dunia. Dia adalah satu-satunya manusia yang telah menyelesaikan pesan agama dengan sempurna, menggariskan aturan-aturannya dan diimani oleh seluruh bangsa ketika dia hidup. Selain agama, dia juga mendirikan negara sebagai media yang menyatukan suku-suku dalam satu bangsa, menyatukan bangsa-bangsa dalam satu negara dan meletakkan dasar-dasar kehidupan agama. Dialah yang memulai misi agama dan dunia serta menyempurnakannya.”

Pembuktian Cinta : Meneladani Rasulullah ﷺ Secara Totalitas

Memperingati Maulid Nabi ﷺ juga menjadi momen pembuktian cinta kepada Baginda Rasulullah ﷺ. Bukti kecintaan kita yang paling pertama dan sederhana kepada Rasulullah adalah banyak bershalawat kepada beliau. Beliaulah yang telah membawa kita pada jalan cahaya dan keselamatan. Shalawat yang selalu kita lantunkan sebagai wujud kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ inilah yang akan menjadikan kita mendapat syafaat dari beliau. Ibnu Mas’ud ra. bertutur bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Orang yang paling berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR at-Tirmidzi).

Imam Syafii juga pernah bertutur,

“Jika cintamu benar, tentu engkau akan menaati Baginda Nabi ﷺ. Sungguh, orang yang mencinta akan menaati orang yang dicintainya.”

Sementara, Imam Ibnu Katsir, saat menafsirkan firman Allah Swt. dalam QS Ali ‘Imran ayat 31, menguraikan:

“Ayat yang mulia ini menjadi pemutus bahwa siapa saja yang mengklaim cinta kepada Allah, tetapi ia tidak mengikuti jalan hidup Nabi maka sungguh ia adalah pendusta pada klaim cintanya dalam hal ini, hingga ia mengikuti syariat dan agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad ﷺ dalam seluruh ucapan dan keadaannya.” (Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm, 2/32).

Namun sayangnya, hari ini, aturan Islam yang sempurna tidak lagi diterapkan dalam kehidupan bernegara. Justru sebaliknya, dunia Islam hari ini terbelenggu oleh sistem kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, sebagian kaum Muslim hanya menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam perkara akhlak dan ibadah ritual semata. Sebaliknya, perjuangan beliau sebagai kepala negara, hakim, panglima perang, pemimpin umat, dan negarawan perlahan mulai dilupakan. Padahal secara tegas Al-Quran memerintahkan agar kaum Muslim menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan.

Baca Juga  SDK-JSM "Tilantiq Tongan Mi Tau, Kambe"

Pesan Penting Momentum Maulid Nabi ﷺ

Dalam konstelasi politik peradaban Islam, 12 Rabiul Awal adalah momentum kelahiran Rasulullah ﷺ, juga wafatnya beliau sekaligus pembaiatan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai pengganti beliau dalam memimpin umat. Fakta sejarah ini penting dipahami untuk melihat kembali realitas perjalanan sejarah peradaban Islam secara utuh. Pembaiatan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama kaum Muslim adalah tonggak pertama syariat Islam dipimpin oleh seorang khalifah sebagai pengganti nabi dalam hal kepemimpinan. Risalah kenabian memang telah terputus dengan wafatnya Rasulullah ﷺ, tetapi peradaban Islam yang agung akan terus berlanjut menyisir berbagai belahan dunia.

Peradaban Islam yang gemilang tersebut pernah berjaya meliputi 2/3 belahan bumi. Daulah Islam tampil sebagai negara adidaya yang diperhitungkan oleh kawan maupun lawan. Kegemilangan di berbagai sisi kehidupan diraih peradaban Islam dengan satu kepemimpinan di seluruh dunia. Sejarah emas ini berlangsung selama 13 abad lamanya, hingga Kekhalifahan Turki Utsmani runtuh pada 3 Maret 1924 oleh seorang pengkhianat umat. Dia-lah Mustafa Kemal, seorang agen Inggris keturunan Yahudi yang mengubah sistem kekhalifahan menjadi sistem sekuler. Hingga akhirnya kaum Muslim tercerai-berai menjadi lebih dari 50 negara, dan aturan Islam tidak lagi diterapkan dalam kehidupan bernegara.

Alhasil, peringatan kelahiran Rasulullah ﷺ idealnya bukan hanya sebatas reuni spiritual atau sekadar peringatan seremonial. Momentum maulid Nabi ﷺ seharusnya menjadi pengingat bagi kaum Muslim, akan jerih payah perjuangan Rasulullah ﷺ bersama para sahabat dalam menegakkan peradaban Islam. Oleh karena itu, sebagai wujud pembuktian cinta kepada baginda Nabi ﷺ, penting bagi kaum Muslim untuk kembali menggelorakan semangat perjuangan kembalinya penerapan sistem Islam kafah dalam kancah kehidupan. WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *