OPINI  

Sandeq: Tercepat di Dunia Tapi Sunyi di Negeri Sendiri


#NarasiAno

Layar segitiga itu berkibar kencang membelah Selat Makassar. Tanpa deru mesin, tanpa bantuan bahan bakar fosil, lambung rampingnya melesat mengikuti angin dan ombak.
Dialah Sandeq, perahu layar tradisional masyarakat Mandar, Sulawesi Barat. Namanya berarti “runcing” atau “tajam”, sesuai bentuk haluan dan buritannya. Perahu ini lahir dari pengetahuan panjang masyarakat Mandar membaca angin, ombak, musim dan arah laut.
Sandeq bahkan dikenal sebagai salah satu perahu layar tradisional tercepat di Indonesia dan kawasan Austronesia. Leluhur Mandar menggunakannya bukan hanya untuk menangkap ikan, tetapi juga berdagang dan mengarungi perairan jauh hingga Selat Malaka, Laut Sulu, Papua dan Jawa.

Sandeq melaju dalam kesunyian.
Ditonton, dirasakan, dimaknai dan dirawat terutama oleh masyarakat Sulawesi Barat sendiri.

Pembaca #NarasiAno yang baik, saya mencoba merangkai tulisan ini dari ingatan ketika pernah tinggal sekitar sembilan bulan di kampung sana. Mungkin karena itu pula algoritma membawa saya kembali kepada Sandeq hari ini.

Ada syair yang selalu mengiringi perjalanan para passandeq:

”Olawillah hella hella na iya tamma hella iya tandi tamboi Olabilla Taratta’jo’ kuru kuru e baraka pole dzi Puang.”

Syair yang bagi masyarakat Mandar bukan sekadar nyanyian, tetapi bagian dari suasana batin ketika mereka berlayar dan Silumba. Cobalah lihat di media sosial. Kita akan melihat para passandeq melajukan perahu ramping itu, berteman dengan angin, ombak dan suara laut.

Baca Juga  Kampanye di Kampus " ( Optimalisasi Politik Gagasan )

Tradisi Sejak 1995
Tapi Sandeq Race, atau kini Sandeq Silumba, bukan sekadar mencari siapa yang paling cepat. Ia adalah pesta budaya laut, ruang pertemuan masyarakat pesisir dan cara masyarakat Mandar mensyukuri laut sebagai sumber kehidupan. Jauh sebelum 1995, sekitar abad ke-20 sandeq sudah diperlombakan dalam bentuk “lomba pasar”. Passandeq saling beradu cepat antar dagangan dari pesisir satu ke pasar pesisir lainnya.

Karena itu saya bertanya, mengapa warisan maritim seperti ini masih harus berjuang sendirian untuk mendapatkan perhatian nasional?

Walaupun Sandeq telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 270/P/2014. Lalu pada 2026, Sandeq Silumba bahkan masuk Top 125 Karisma Event Nusantara (KEN).
Artinya, pusat sudah mengakui nilai nasionalnya.

Tetapi pengakuan di atas kertas belum tentu berarti perhatian di lapangan.

Tahun ini justru menjadi contoh yang menarik. Sandeq Silumba 2026 tetap digelar, tetapi lomba maraton lintas kabupaten dari Polewali Mandar menuju Mamuju ditiadakan karena keterbatasan anggaran.

Baca Juga  Manuskrip Ratusan Tahun: AL QUR'AN TERTUA DI BANGGAE MAJENE SULAWESI BARAT

Di sinilah saya merasa perlu menyentil pemerintah pusat.
Begini, kita sering mendengar pidato tentang Indonesia sebagai negara maritim, tentang mengembalikan kejayaan laut, bahkan tentang bagaimana bangsa ini seharusnya kembali menjadi bangsa pelaut.

Tetapi ketika sebuah tradisi bahari nyata masih hidup di pesisir Sulawesi Barat, mengapa ia seperti dibiarkan mencari jalan sendiri?

Sandeq bukan benda mati yang dipajang di museum. Ia adalah pengetahuan hidup dan salah satu peradaban bangsa Indonesia dalam dunia kebaharian.

Bayangkan bagaimana perahu ini bergantung pada kemampuan membaca arah angin dan mengatur layar. Para passandeq mewarisi teknik melaut yang dibangun dari pengalaman panjang. Bahkan penelitian tentang pembuatan Sandeq menunjukkan bahwa setiap bagian perahu memiliki makna simbolik dan berkaitan dengan nilai budaya masyarakat Mandar.

Maka ketika kita berbicara tentang Sandeq, sebenarnya kita sedang berbicara tentang teknologi lokal, budaya, pariwisata, ekonomi kreatif dan sejarah maritim sekaligus.

Saya tidak sedang meminta pemerintah pusat menghamburkan uang. Saya justru mempertanyakan cara kita menentukan prioritas.

Baca Juga  Ancaman Hukuman 12  Penjara Bagi Pembuat  Akun Palsu Atas Nama Orang Lain

Kalau sebuah event sudah masuk KEN, berarti negara telah mengakui bahwa ia memiliki nilai nasional. Kalau sudah bernilai nasional, mestinya bukan hanya logonya yang nasional. Promosi, jejaring, pendampingan, dan keberpihakan anggarannya juga harus terasa nasional.

Jangan sampai KEN hanya menjadi stempel.•

Bayangkan bila dikemas secara serius, dokumentasi internasional, siaran langsung, film dokumenter, promosi digital, paket wisata bahari, hingga kompetisi internasional perahu layar tradisional.

Dunia tidak kekurangan cerita tentang laut. Indonesialah yang kekurangan keberanian untuk menjual ceritanya sendiri.
Dan Sulawesi Barat sesungguhnya memiliki cerita itu.

Pembaca #NarasiAno, para passandeq tidak meminta belas kasihan. Mereka hanya ingin tradisi leluhurnya terus berlayar.

Mereka sudah membuktikan bahwa sebuah perahu tanpa mesin dapat bergerak mengandalkan angin dan pengetahuan manusia.

Sebab jangan sampai kita terlalu sibuk berbicara tentang kejayaan maritim Indonesia, sementara salah satu simbol kejayaan itu justru sedang berlayar dalam kesunyian di pantai Sulawesi Barat.

”Layar Sandeq akan terus terkembang. Pertanyaannya, apakah negara akan ikut berlayar bersamanya, atau kembali membiarkannya sendirian di tengah lautan?

NarasiAno

Enak dibaca, Kuat dirasakan
Panakukang, Minggu 9 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *