Oleh: Jajat Munadjat
Dalam uraian ini memiliki catatan khusus karena ulama yang akan diuraikan semuanya lahir dan mengabdi ditahun 1900-an atau generasi ulama yang berada pada abad XX; Meskipun pada masa ini masih terdapat beberapa ulama senior yang masih mengabdi sejak abad XIX hingga awal abad XX (liht tulisan sebelumnya 03), demikian juga pada periode ini akan lahir beberapa ulama yang akan mengabdi dari abad XX hingga awal abad XXI (akan diuraikan dalam tulisan 05); Sehingga pada masa tahun 1900-an atau pada abad XX ini terdapat 3 generasi ulama yang sama sama eksis pada periodenya masing masing sekaligus ada masa keduaduanya hadir bersamaan sebagai petanda estafet keulamaan dalam pengabdian kepada ummat;
Berikut ini terdapat beberapa ulama kharismatik dan masyhur di Banggae Majene dan sekitarnya, khususnya yang lahir awal tahun 1900-an serta mengabdi pada medio hingga akhir 1990-an, yaitu:
1. KH Djuaeni As’ad, tahun 1909 – 1979 (usia 70 tahun);
Beliau dikenal pula dengan sebutan nama Puang Daeng Imam Kandemeng, Kandemeng adalah nama kampung atau desa yang berada di Tinambung Balanipa Polman; Ayahnya adalah seorang ulama termasyhur yang juga keturunan bangsawan Raja (Mara’dia) bernama KH Daeng atau KHM As’ad bin Harun Al Rasjid, yang pernah menjadi Kadhi di Kerajaan Balanipa Mandar (sudah diuraikan dalam tulisan sebelumnya 03), beliau dikenal pula sebagai ulama fiqgi; Adapun anak beliau yang menjadi ulama, pendidik, penda’i, muballigh/muballighah adalah: Prof Dr KHM Nafis Djuaeni (Ketua MUI Prov Sulbar), Drs Faidurrachman Djuaeni, Dra Yusran Djuaeni, dan saudara lainnya, selain itu terdapat pula sejumlah murid ngaji yang nantinya menjadi pelopor dan penggiat keagamaan ditengah-tengah masyarakat; KH Djuaeni As’ad bermukim di kampung atau lingkungan Binanga/Tanjung Batu dalam kota Majene, tepatnya di Jl KH Daeng; Selain sebagai imam kandemeng, beliau biasa memimpin sholat di dekat rumahnya, atau kadang di Masjid Saleppa (Masjid Raya Raudhatul Abidin) bila Jum’atan, atau memimpin sholat ied; Suara beliau khas, energik dan menghentak, bakalan makmum tidak akan ada yang ngantuk dan pasti terjaga; Semasa awal orde baru beliau pernah duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Majene;
2. KH Djalaluddin Sulaiman, tahun 1911 – 1987 (usia 76 tahun); Beliau biasa disapa dengan nama Puang Imam, karena memang sering memimpin sholat berjamaah di masjid dekat rumahnya, dan secara reguler menjadi Imam sholat Jum’at dan tarawih di Masjid Saleppa (Masjid Raya Raudhatul Abidin), serta Sholat Ied di lapangan; Suara beliau sangat khas bernada tinggi sehingga mudah dikenali dan dijamin makmum akan bersemangat dalam sholatnya; Kakek beliau adalah seorang ulama tersohor di zamannya bernama KH Abdurrazak, dan kakek buyutnya atas nama KH Adam (yang sudah diulas dalam tulisan 02 sebelumnya); Paman sepupu beliau juga adalah seorang ulama tersohor pada masanya yakni KH Abd Rasyid (Kadhi Sidenreng) dan paman langsungnya atas nama KH Abdullah dan KHM Yahya (ketiganya juga telah diuraikan dalam tulisan 03 yang lalu); Selain sebagai ulama beliau juga keturunan bangsawan Hadat (kalangan Pa’bicara); Penting diketahui bahwa sapaan penghormatan yang menjadi tradisi masa lalu bagi masyarakat kerajaan Banggae: bila berdarah bangasawan raja (mara’dia) disapa Puang Daeng X, jika keturunan bangsawan Hadat (Pa’bicara, Kepala Wilayah atau Kepala Kampung) menyapanya dengan Puang Y, dan bila seseorang ulama biasa disebut Puang Kadhi (Pokkali) Z atau Puang Annangguru Z; Selanjutnya anak beliau yang mengikuti jejaknya adalah Drs KHM Idil Fithry Djalaluddin MSi (Imam Besar Masjid Agung Ilaikal Mashir Majene), dan juga terdapat anak didik atau anak ngaji yang menjadi tokoh atau penggiat keagamaan;
3. KH Siradjuddin Salam, tahun 1912 – 1975 (usia 63 tahun); Beliau dikenal sebagai ulama pendidik di samping menjadi imam masjid dikampung/ lingkungan binanga dalam kota Majene; Masyarakat atau warga biasa menyapa atau menyebut Puang Imam Siradju’ atau Puang Imam Binanga; Selain menjadi imam juga aktif berceramah dan berkhotbah, di samping itu beliau membina sebuah sekolah bersama KH Abdullah Mubarak serta beberapa orang ustadz dan pendidik lainnya; Nama sekolahnya PGA (Pendidikan Guru Agama) Islam 4 tahun sederajat SLTP dan PGA 6 tahun setingkat SLTA dalam satu gedung sekolah; Beliaulah yang menjadi kepala sekolah, ketika beliau wafat maka dilanjutkan oleh KH Abdullah Mubarak; Alumninya banyak yang menjadi guru agama di sekolah sekolah, muballigh, penda’i; dan ada juga yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi baik sarjana muda maupun sarjana lengkap yang setara dengan S1 sekarang, S2 hingga S3 yang umumnya lanjut ke IAIN Alauddin atau sekarang UIN Alauddin Makassar dan ada pula yang ke luar negeri;
4. KHM Saleh, tahun 1913 – 1977 (usia 64 tahun);
Beliau adalah ulama fiqhi sekaligus ulama penganut Tarekat Qadariyah, muridnya banyak dan menyebar diberbagai wilayah, tidak hanya di Mandar Sulawesi Barat, juga Sulawesi Selatan hingga KalSel, Kaltim dan yang lainnya; Pengajiannya ada yang bersifat khusus bagi murid yang menjadi jama’ah tharekat qadariyah, ada pula yang dilaksanakan secara umum bagi siapa saja yang berminat, serta ada yang sifatnya syi’ar dan akbar yang dilaksanakan sekali dalam setahun setiap malam 27 Ramadhon di Bukku’ Salabose Banggae Majene; Guru beliau tidak saja belajar dan ngaji kepada ulama senior termasuk yang ada di tempat kelahirannya desa pambusuang (dikenal banyak melahirkan ulama, termasuklah Imam Lapeo yang tersohor di tanah Mandar dan dikenal luas hampir disemua wilayah di nusantara); Murid Puang Annangguru Saleh (KHM Saleh) yang melanjutkan pengajarannya selain anaknya sendiri DR AG KH Ilham Saleh MA juga ada Prof DR AG KH Syahabuddin, MA (mantan Rektor/Direktur IAIN/ STAIN Ternate Maluku (sekarang Maluku Utara) dan dilanjutkan oleh putranya DR AG KH Syibli Sahabuddin di Polewali Polman Sulbar;
5. KH Adullah Mubarak, tahun 1915 – 1992 (usia 77 tahun);
Keturunan Puang Annangguru Mubarak (Puang Barak) begitu biasa disapa atau disebut oleh warga atau jama’ah atau murid, kurang lebih sama dengan Annangguru Puang Imam yakni cucu dari KH Abdurrazak dan cucu buyut dari KH Adam, sementara KH Abd Rasjid adalah paman langsung dari KHA Mubarak dari pihak ibundanya (St Chadidjah kakak beradik dengan KH Abd Rasjid), sedang dari pihak ayahandanya bernama Qasim mempunyai saudara laki laki bernama KH Abdullah dan KHM Yahya, jadi keduanya juga adalah paman langsungnya; KHA Mubarak selain sebagai Imam tetap di Masjid Saleppa (Masjid Raya Raudhatul Abidin) generasi ke 5 menggantikan KH Zainal Abidin, juga aktif membina dan mengajar di Sekolah PGA 4 tahun/ 6 tahun bersama KH Siradjuddin Salam; Di samping itu juga sebagai PNS dengan jabatan terakhir Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banggae Kabupaten Majene, dan diluar jam kerja (siang sampai dengan sore) dirumah beliau mengajar ngaji semacam TPA Al Qur’an kepada sejumlah anak anak, dan sore hingga malam mengajar kitab gundul atau kitab kuning, bahasa Arab, Nahwu Sharaf, Ilmu Fiqhi, Safinahtun Najah, dan lain lain kepada remaja dan beberapa pemuda yang minat pada pendidikan agama, proses belajar bila sore dirumah beliau, jika malam lanjut di masjid; Murid muridnya sungguh banyak, ada yang jadi ulama, pendidik, dosen hingga mahaguru dan guru besar, muballigh, penda’i, penggiat sosial keagamaan, parktisi diberbagai bidang, pejabat ASN, pejabat publik, dan lain-lain; Sewaktu menjadi Kepala KUA Kecamatan Banggae beliau menggagas penyeragaman nama depan setiap masjid pada satu desa, yang berbedabeda pada setiap desa dalam wilayah kecamatan Banggae, waktu itu terdapat 5 desa: Banggae (Masjid Raudah/ Raudhatul “A”), Labuang (Masjid Nur/ Nurul “B”), Totoli (Masjid Bait/ Baitul “C”), Baruga (Masjid Darul “D”), dan Tande (Masjid Miftah/ Miftahul “E”);
6. KH Abd Rachman Qadir, tahun 1917 – 1989 (usia 72 tahun);
Beliau lazim disapa atau desebut Puang Annangguru Ra’bu, dan memiliki sejumlah murid dan khalifah yang mempelajari dan mengajarkan Tarekat Naqsyabandiah, jumlahnya lumayan banyak tersebar dibeberapa wilayah dalam kabupaten majene; Penampilan beliau neces dan nampak nyentrik tentu berbusana ala kiyai dan ulama, ada songkok haji plus sorban yang terlilit di songkok, baju gamis yang berlapis dipadu semacam syaal diselempang, pake sepatu hitam mengkilap, penampilan seperti itu biasa penulis lihat ketika beliau menuju masjid untuk sholat jum’at, beliau berjalan kaki dari rumahnya ke masjid saleppa (masjid raya raudhatul abidin) yang berjarak hanya sekira 500 meter; Beliau pernah juga menjadi anggota DPRD Kabupaten Majene sekira tahun 1970;
7. Selain itu, ada juga KH Abd Hafidz Umar Hafidzahullahu Ta’ala yang lazim disapa dan disebut Annangguru Papi’ dan mantunya atas nama KH Nur Husain di Baruga, kemudian KM Bachyt Fattah di Binanga/ Tjg Batu, KM Rasyada’ di Camba, KH Abd Rachim dan KH Ismail di Simullu/ Baruga, ustadz H Usman Ali, ustadz M Toha, ustadz H Mas’ud Rachman, dan yang lainnya;
- Sementara ulama lainnya yang bermukim tidak jauh dari Banggae ibu kota Majene, antara lain: KH Umar (Imam Ba’babulo Pamboang), KH Machmud Jawad di Pamboang, dan KHM Yusuf di Sendana, serta KH Djalaluddin di Tinambung Balanipa, KH Ismail dan beberapa ulama lainnya di Pambusuang, Campalagian, hingga Polewali disana ada KH Zainal Abidin bin Abdullah saudara sepupu dari KH Djalaluddin Sulaiman dan KHA Mubarak;
- Sedang ulama yang akan diuraikan selanjutnya dalam tulisan 05, antara lain: Prof DR AG KH Sahabuddin, Drs AG KH Syauqaddin Gani, dan seterusnya yang juga lahir ditahun 1900-an tetapi pengabdiannya selain pada masa medio hingga akhir tahun 1900-an juga menyebrang ke abad XXI atau tahun 2000-an;
Itulah list para ulama terkhusus yang lahir dan mengabdi dalam masa tahun 1900-an hingga tahun 1990-an, mudah mudahan ada gambaran profil para ulama dimaksud untuk dapat diketahui oleh generasi sekarang dan generasi yang akan datang, semoga, Amin;
Makassar, Akhir November 2025
Jajat MM













