OPINI  

Syekh Hasan Yamani Ulama Ternama di Tanah Mandar

Oleh: Jajat MM

Syekh Hasan Yamani adalah ulama ahlussunnah waljama’ah (aswaja) bermazhab Syafi’i yang berasal dari Arab Saudi, keulamaannya terwarisi dari ayahnya bernama Syekh Said Al Yamani; Beliau datang ke nusantara dan sampailah di tanah mandar pada awal abad XX, kala itu di tanah arab terjadi pergolakan hingga akhirnya berdiri kerajaan arab saudi di bawah raja Sa’ud yang terpisah dari kerajaan-kerajaan arab sebelumnya;

Saat itu pula tumbuh dan berkembang secara massif berbagai aliran mazhab termasuk pula penganut kaum sufi, sementara raja Sa’ud yang baru berkuasa menggandeng para ulama pembaharu yang beraliran Wahabi dan terkenal strong tak kenal kompromi, makanya banyak ulama yang tidak sealiran dengan Wahabi pergi mengembara ke luar negeri hingga ke berbagai penjuru dunia;

Syech Hasan Yamani akhirnya tibalah di tanah mandar, awalnya tinggal di Saleppa Banggae Majene, dan stay beberapa tahun di rumah ulama ternama KH Zainal Abidin (1855-1958) biasa disapa Puang Matoa, yang menjadi Imam Masjid Saleppa generasi ke-4 (sekarang Masjid Raya Raudhatul Abidin Saleppa Banggae Majene), dan juga diangkat sebagai Kadhi Kerajaan Banggae Majene yang terakhir, jelang seluruh wilayah kerajaan di nusantara masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI);

Baca Juga  Regenerasi Ulama di Banggae Majene Sulawesi Barat Masa Tahun 1950-an sd Sekarang (05 - Selesai)

Setelah menikah dengan warga Pambusuang maka beliau bermukimlah disana, sekaligus berdkwah dan mengajar ilmu agama di Pambusuang, Tinambung, Majene, dan Campalagian;

Selang beberapa tahun kemudian Syekh Hasan Yamani menikah dengan warga Campalagian bernama Syarifah Munawwarah anak seorang ulama setempat bernama KH Hasan Al Mahdi, akhirnya bermukimlah di Campalagian sembari mengajarkan ilmu agama di rumah dan masjid setempat (sekarang masjid raya campalagian kabupaten polewali mandar);

Sesuai penuturan Syekh Hasan Yamani yang disampaikan kepada keluarga KH Zainal Abidin dan keluarga KH Abdullah Mubarak di Majene serta saudara lago KHA Mubarak yang berada di Al Jiyad Makkah Arab Saudi Syech Hasbullah Mandailing, yang dahulu mengurus dan memfasilitasi sejumlah jama’ah haji dari Malaysia dan Indonesia, khususnya dari Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan, menyatakan bahwa beliau memiliki 2 orang anak laki-laki dari isteri pertamanya di makkah arab saudi, salahsatunya bernama Syech Ahmed Zaki Yamani yang sedang menuntut ilmu di luar negeri (Mesir dan Amerika Serikat);

Syech DR Ahmed Zaki Yamani (Juni 1930 – Februari 2021) adalah mantan menteri perminyakan dan sumberdaya mineral Arab Saudi periode tahun 1962 – 1982 di bawah empat raja Arab Saudi yang berkuasa secara estafet, dan dimasanyalah lahir kebijakan pemerintah arab saudi dengan dukungan OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) yakni negara-negara pengekspor minyak bumi atas kebijakan “embargo minyak” yang berdampak luas khususnya USA, Eropa dan secara umum dunia Internasional;

Baca Juga  Kegelapan Dosa Menuju Cahaya Ilahi: Sebuah Pengakuan dan Perjalanan

Pasca pensiun DR Zaki Yamani mendirikan The Centre for Global Energy Studies (CGES) dan sebagai Founder Father Al Furqan Islamic Heritage Foundation, yang keduanya sangat berperan di dunia arab secara khusus dan secara umum di dunia internasional;

Adapun ulama yang segenerasi dengan Syekh Hasan Yamani dii tanah mandar saat itu adalah: KH Muh Tahir (1838-1952) yang populer dengan nama Imam Lapeo, KH Abd Rasyid atau biasa disapa Puang Kadhi Sidenreng (sebelumnya sebagai Kadhi Banggae Majene), KH Zainal Abidin (1855-1958) dengan sapaan Puang Matoa, juga pernah sebagai kadhi Banggae Majene, KH Daeng (1871-1945) dengan nama asli KH As’ad bin Harun Al Rasyid, juga sebagai kadhi Balanipa Tinambung Polman, KHM Yahya dan saudaranya KH Abdullah di Manjopai Karama Tinambung Polman, KH Hasan Al Mahdi, Syech KH Alwi Abdullah, dan KH Abd Hamid yang dilanjutkan oleh mantunya KH Maddempungang, keempatnya di Campalagian Polman;

Baca Juga  Adakah Keadilan dalam Sistem Demokrasi?

Demikian sedikit yang dapat ditulis sebagai pengingat bagi kita semua untuk dapat mengenal, mengenang dan mengetahui sosok ulama dimasa yang lalu, rekam jejak Syekh Hasan Yamani dapat ditelusuri dari para orangtua yang sempat menyaksikan kehadirannya di tanah mandar (saleppa banggae majene, pambusuang tinambung dan parappe campalagian polman);

Selain itu ada cindera mata berupa “tongkat yang biasa digunakan keseharian” diberikan kepada KH Zainal Abidin sewaktu syekh Hasan Yamani akan kembali pulang ke Makkah Saudi Arabia, dan tongkat tersebut oleh KH Zainal Abidin sebelum wafatnya diserahkan kepada KH Abdullah Mubarak, saat ini cinderamata tersebut masih disimpan baik oleh salah seorang putra KHA Mubarak;

Dan oleh warga masyarakat dan tokoh agama di Campalagian mengabadikannya dengan memberi nama Pondok Pesantren Syekh Hasan Yamani yang berlokasi di Parappe Kecamatan Campalagian Kabupaten Polman Provinsi Sulawesi Barat;

Dalam rangka memperingati hari santri nasional, oleh komunitas pesantren tersebut mengadakan Festival Pesantren Syekh Hasan Yamani di Polewali tanggal 22-25 Oktober 2025 yang didukung luas oleh masyarakat dan juga mendapat support dari Pemkab Polman dan Pemprov Sulbar, semoga sukses, selamat hari santri nasional tgl 22 Oktober 2025;

Makassar, Oktober 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *