OPINI  

Masjid Al-Aqsa dan Ancaman Keruntuhannya

Oleh: Munawwarah Rahman, S.Pd. (Praktisi Pendidikan)

Zionis Yahudi tak henti-hentinya menambah derita kaum muslim. Tak hanya melakukan genosida yang telah menewaskan 67.173 warga Palestina. Mereka juga melakukan proyek penggalian terowongan di sekitar Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem.

Penggalian terowongan ini menjadi ancaman keruntuhan Masjid Al-Aqsa akibat retakan struktur tanahnya, mengancam penduduk kota suci tersebut, merusak landmark Palestina seperti rumah-rumah bersejarah dan sekolah-sekolah kuno. Kegubernuran Yerusalem telah memperingatkan akan bahaya proyek ini, tapi para kaum penjajah tak mengindahkan. Mereka tetap melanjutkan proyek tersebut dengan dalih untuk pekerjaan arkeologi.

Marouf Al-Rifai, Penasihat Kegubernuran Yerusalem membantah alasan mereka. Ia justru mengemukakan bahwa proyek tersebut bukan untuk pekerjaan arkeologi, melainkan ingin meyahudisasikan Kota Tua dan mengubah identitas historis serta geografisnya.

Niat terselubung dari Penggalian Terowongan

Jika melihat sejarah, penggalian terowongan yang dilakukan Zionis Yahudi di bawah kompleks Masjid Al-Aqsa bukanlah proyek baru, melainkan sudah berlangsung gencar dalam 60 tahun terakhir dan mencapai fondasi kompleks dalam 15 tahun terakhir. Sejak pendudukan pada 1967, Israel telah melakukan lebih dari 100 penggalian di wilayah tersebut.

Hanya demi sebuah ambisi menguasai Palestina, mereka melakukan segala macam cara demi tujuan tersebut, salah satunya dengan upaya menghancurkan Masjid Al-aqsa. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mewacanakan bahwa Zionis Yahudi akan mendirikan sinagoge di atas Masjid Al-aqsa. (Al Jazeera, 26-8-2024).

Maka tak heran jika upaya penghancuran tempat suci itu direncanakan dengan matang. Karena ingin mengubah menjadi tempat peribadatan mereka. Berita terbaru menyebutkan bahwa 460 pemukim ekstremis Yahudi kembali menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa pada Rabu (29-10-2025) di bawah pengawalan ketat polisi dan pasukan khusus bersenjata Zionis. Pada Ramadan 2024, Menteri Keamanan Nasional Zionis Itamar Ben-Gvir memimpin ratusan warga Yahudi ke kompleks Masjid Al-Aqsa.

Baca Juga  Refleksi Muharram: Mewujudkan Kebangkitan Umat Yang Hakiki

Yahudi menamai Masjid Al-Aqsa sebagai Temple Mount, yaitu lokasi dari dua kuil kuno yang pertama kali dibangun oleh Raja Salomo (Solomon) dan dihancurkan oleh Romawi pada 70 M. Temple Mount merupakan salah satu tempat paling suci bagi Yahudi sehingga mereka terus berusaha menguasainya meski dengan cara ilegal dan menggunakan kekerasan.

Dampak Penerapan Sistem Sekuler Kapitalisme

Dari dulu hingga kini Zionis Yahudi tak dapat dipercaya meski dibalut dengan berbagai kata-kata manis. Mereka tak akan berhenti berulah sampai tujuan mereka terwujud. Hal inilah yang harus disadari oleh kaum muslim bahwa kaum kafir seperti mereka tak boleh dibiarkan. Bahkan harus dihentikan agar tak menjarah tanah yang bukan miliknya.

Namun, sungguh ironi dalam sistem kapitalisme, akibat sekat-sekat nasionalisme, dukungan tak kunjung datang dari para pemimpin muslim. Yang bergerak hanyalah ormas yang jelas-jelas tak punya daya jika dibandingkan dengan kekuatan negara. Ambisi kekuasaan telah membutakan mata dan hati para penguasa muslim hingga tidak tergerak untuk membela Al-Aqsa. Mereka bahkan menyetujui solusi dua negara yang terbukti bukanlah solusi hakiki. Melainkan rencana jahat Zionis dan induknya (AS) untuk menguasai Palestina tanpa peperangan.

Baca Juga  Dunia Membutuhkan Kepemimpinan Global yang Membawa Rahmat

Menerapkan Sistem Islam secara Menyeluruh

Untuk itulah dibutuhkan solusi pembebasan Palestina dan Masjid Al-aqsa. Tentu dengan penerapan Islam secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah. Penerapan sistem Islam akan menggerakkan seluruh kaum muslim termasuk khalifah. Bahkan merekalah yang akan menjadi komando untuk memerangi para musuh seperti Zionis Yahudi dengan Jihad fiisabilillah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Diwajibkan atas kalian berperang.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 216).

Rasulullah saw. bersabda,

“Jihad wajib atas kalian bersama setiap amir.” (HR Abu Dawud, Ath-Thabrani, Ad-Daruqutni, dan Al-Baihaqi).

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang khalifah bahkan seluruh kaum muslim berkewajiban penuh untuk memerangi kaum kafir penjajah. Seorang khalifah juga menjadi garda terdepan dalam penertiban pasukan di seluruh penjuru negeri-negeri muslim untuk mengadang orang-orang kafir yang ada di depan mereka. Yang paling penting memastikan semua perbatasan terisi penuh oleh tentara Islam.

Semua ini akan terwujud ketika sistem Islam yang disebut Khilafah tegak kembali dalam kehidupan ini. Khilafah akan menuntaskan seluruh persoalan kaum muslim termasuk Palestina dan segala apapun yang terkait dengannya seperti masjid Al-Aqsa. Khilafah akan memastikan pembebasan wilayah tersebut dengan mengerahkan seluruh pasukan yang berasal dari negeri-negeri terdekat Palestina, yaitu Mesir, Yordania, Lebanon, Suriah, Arab, Yaman, dan sebagainya untuk berjihad ke Palestina.

Ada dua alasan wajibnya berjihad bagi penduduk sipil wilayah maupun militer, pertama, karena kedekatan mereka terhadap wilayah palestina yang sedang dijajah oleh Zionis Yahudi. Kedua, karena khalifah memerintahkan mereka untuk berjihad.

Baca Juga  Penjajahan Zionis Menghancurkan Masa Depan Anak-anak Gaza

Dalam sistem Islam, terdapat dua macam pasukan, yaitu pasukan reguler dan pasukan cadangan. Pasukan cadangan adalah seluruh penduduk sipil yang mampu mengangkat senjata (Syekh Abdul Qadim Zallum, Nizham al-Hukmi fi al-Islam, halaman 152—153).

Pasukan reguler dan cadangan dari negeri-negeri tersebut akan berangkat ke Palestina dengan segera dan berbondong-bondong dengan senjata dan alat-alat perang yang canggih. Khalifah akan merancang strategi militer untuk memenangkan perang melawan Zionis. Jika pasukan dari negeri-negeri muslim terdekat tidak mencukupi untuk mengalahkan Zionis, khalifah akan mengerahkan pasukan dari negeri-negeri muslim yang jauh, termasuk Indonesia, hingga tercapai kecukupan yaitu kemenangan kaum muslim atas Yahudi.

Dalam berjihad melawan Yahudi, kaum muslim harus yakin pada janji Allah Taala bahwa Dia akan menolong hamba-Nya yang menolong agama Allah. Sebagaimana firman Allah Swt.,

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7).

Demikianlah kekuatan sistem Islam yang mampu membela, menyelamatkan, dan mengembalikan Palestina dan Masjid Al-Aqsa pada yang seharusnya. Tentu kita ingin semua segera terwujud dalam kehidupan ini. Agar tak hanya Palestina, tapi juga negeri-negeri muslim lain yang tengah berkonflik seperti Sudan, Myanmar, Muslim Rohingya dan lain-lain segera terbebas dari cengkraman musuh-musuh Islam.[] Wallahu A’lam Bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *