KAMPUS  

Dosen dan Mahasiswa Unsulbar Latih 15 Kader Kesehatan Desa Pamboborang Kendalikan Hipertensi di Tingkat Komunitas

Majene— Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Kapasitas Kader Kesehatan untuk Pengendalian Hipertensi di Komunitas” di Desa Pamboborang. Kegiatan yang berlangsung dari pertengahan Juni hingga pertengahan Juli 2026 ini menyasar 15 kader kesehatan yang tersebar di tiga posyandu setempat, dengan tujuan meningkatkan kemampuan mereka dalam mengedukasi warga dan melakukan skrining tekanan darah secara mandiri.
Kegiatan ini dimotori oleh Erviana bersama tim dosen Muhammad Taufik serta mahasiswa Nurfadilah Putri Sentosa, Hermaliya Jumita Sari, Hamdani, dan Asril. Program ini merupakan tindak lanjut dari pengabdian sebelumnya di lokasi yang sama, yaitu “Integrasi Edukasi dan Layanan Kesehatan untuk Pengendalian Hipertensi di Komunitas”, yang telah berhasil meningkatkan pengetahuan warga tentang hipertensi namun belum diikuti perubahan perilaku yang menetap.

Berangkat dari Kebutuhan Nyata di Lapangan
Menurut tim pelaksana, prevalensi hipertensi di Desa Pamboborang tergolong tinggi, yakni di atas 20 persen, dengan faktor pemicu berupa pola makan tinggi garam, minimnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan rendahnya literasi kesehatan warga. Meski fasilitas seperti puskesmas, posyandu, dan posbindu sudah tersedia, pemanfaatannya untuk kegiatan promotif dan preventif dinilai belum maksimal.
“Kader kesehatan sebenarnya memiliki posisi yang sangat strategis karena kedekatan mereka dengan masyarakat. Masalahnya, kapasitas mereka dalam edukasi, skrining, dan pencatatan tekanan darah masih perlu diperkuat. Dari situlah program ini kami rancang,” jelas Erviana, ketua tim pelaksana kegiatan.

Baca Juga  UT Majene Wisuda 490 Lulusan, Salim S. Mengga: Tantangan Nyata Ada di Masyarakat, Bukan di Kampus

Empat Tahap Pelaksanaan
Program dilaksanakan melalui empat tahap utama. Tahap pertama adalah sosialisasi dan koordinasi dengan pemerintah desa, puskesmas, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat pada 15 Juni 2026 untuk menyepakati jadwal dan komitmen bersama. Tahap kedua, pelatihan kader, dilaksanakan pada 7 Juli 2026 bertempat di Aula Desa Pamboborang dengan pendekatan andragogi berupa ceramah interaktif, diskusi, simulasi, dan praktik langsung. Materi yang diberikan mencakup konsep dasar hipertensi dan faktor risiko, teknik komunikasi dan edukasi kesehatan, keterampilan pengukuran tekanan darah, hingga pencatatan dan pelaporan hasil skrining.
Pada hari yang sama juga dilaksanakan tahap ketiga, yaitu penerapan media edukasi berupa leaflet dan poster hipertensi ukuran A5 dan A3, modul kader kesehatan, serta buku register pencatatan tekanan darah ukuran A4 yang dirancang sederhana agar mudah digunakan kader dalam kegiatan sehari-hari. Tahap terakhir adalah pendampingan dan evaluasi lapangan yang dilakukan pada 10 Juli 2026 melalui supervisi, kunjungan langsung, serta diskusi evaluasi bersama kader.
Seluruh rangkaian kegiatan ini dibiayai melalui dukungan finansial dari Universitas Sulawesi Barat, sebagai bagian dari komitmen kampus terhadap program pengabdian masyarakat yang berdampak langsung dan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-3 mengenai kehidupan sehat dan sejahtera.

Baca Juga  Peta Desa Lego Resmi Terpasang, Inisiatif Mahasiswa KKN Unsulbar

Pengetahuan dan Keterampilan Kader Melonjak Signifikan
Hasil evaluasi menggunakan pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan yang nyata pada tiga aspek yang diukur. Pada aspek pengetahuan tentang hipertensi, jumlah kader dengan kategori “baik” naik dari 6 orang (40%) menjadi 13 orang (86,7%). Pada keterampilan pengukuran tekanan darah, peningkatan bahkan lebih tajam — dari hanya 4 kader (26,7%) berkategori baik sebelum pelatihan, seluruh 15 kader (100%) mampu melakukan pengukuran dengan benar setelah pelatihan. Kemampuan pencatatan dan pelaporan hasil skrining juga meningkat dari 8 kader (53,3%) menjadi seluruh kader (100%) berkategori baik.
“Yang paling menggembirakan adalah antusiasme para kader selama pelatihan. Mereka tidak hanya menyimak, tapi aktif praktik langsung, mulai dari cara memasang manset yang benar sampai mengisi buku register skrining,” tambah Erviana.

Tantangan dan Rencana Keberlanjutan
Tim pelaksana mengakui bahwa tantangan terbesar dari program sebelumnya adalah memastikan peningkatan pengetahuan benar-benar berlanjut menjadi perubahan perilaku yang menetap di masyarakat, bukan sekadar kegiatan yang berhenti setelah tim pengabdi selesai bertugas. Untuk mengatasi hal ini, program kali ini secara khusus memperkuat kapasitas kader sebagai pelaku utama di lapangan, dilengkapi dengan sistem pencatatan sederhana berupa buku register, serta penguatan koordinasi dengan puskesmas dan pemerintah desa agar pemantauan tekanan darah warga dapat berjalan berkelanjutan meski tanpa pendampingan intensif dari tim kampus.
Sebagai tindak lanjut, tim merekomendasikan agar kegiatan berikutnya mengevaluasi dampak jangka panjang program terhadap perubahan perilaku dan capaian klinis warga, misalnya penurunan rerata tekanan darah, serta mengembangkan mekanisme insentif dan pembinaan berkelanjutan bagi kader agar peran mereka sebagai agen perubahan tetap terjaga.
“Harapan kami, kader-kader ini bisa terus aktif melakukan edukasi dan skrining rutin di posyandu dan posbindu masing-masing, sehingga warga yang berisiko hipertensi bisa lebih cepat terdeteksi dan dirujuk untuk penanganan lebih lanjut. Program ini bukan proyek sesaat, tapi pondasi bagi sistem pengendalian hipertensi berbasis komunitas yang berkelanjutan di Desa Pamboborang,” pungkas Erviana. 
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sulawesi Barat dalam mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi di bidang pengabdian kepada masyarakat yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *