OPINI  

Gen Z: Dari Kecemasan Menuju Kebangkitan

Oleh: Hamsina Halik

Oleh: Hamsina Halik

Di era digital dan kemajuan teknologi yang serba cepat, Gen Z sering dianggap sebagai generasi paling melek dan terkoneksi. Tapi ironisnya, di balik akses informasi yang mudah dan peluang yang kelihatannya luas, ada realita yang bertolak belakang. Banyak survei mengungkap kalau Gen Z malah jadi kelompok paling rentan kena kecemasan, stres, sampai masalah kesehatan mental. Fenomena ini nggak cuma terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.

Dikutip dari data.goodstats.id pada 8/4/2026 disebutkan bahwa tekanan yang dihadapi Gen Z juga ringan. Kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental, dengan proporsi mencapai 60%. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian yang besar terkait karier, stabilitas ekonomi, hingga kondisi global.

Selain itu, tekanan finansial juga menjadi faktor signifikan 57%, diikuti oleh ekspektasi sosial 42% serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi yang berada di luar kendali 36%.

Dampaknya pun terlihat dalam berbagai bentuk gangguan yang mereka alami sehari-hari. Perubahan suasana hati atau mood swing menjadi masalah paling umum dialami 62% responden, disusul gangguan tidur seperti insomnia atau tidur berlebihan dengan 50%. Selain itu, kecemasan berlebih (38%) dan kesulitan mengelola emosi (38%) juga menjadi tantangan yang kerap dihadapi.

Ada banyak penyebab yang disebut-sebut memicunya. Media sosial bikin orang terus-menerus membandingkan diri. Tuntutan untuk kelihatan sukses, menarik, dan produktif membuat banyak anak muda merasa selalu kurang. Ditambah lagi ketidakpastian ekonomi, susahnya cari kerja, biaya hidup yang mahal, dan konflik global yang tiap hari muncul di layar HP. Hasilnya, lahir generasi yang dihantui rasa cemas soal masa depan.

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan bagi Perempuan guna Melahirkan Generasi Berkualitas

Tapi justru dari kondisi itu muncul hal lain, yaitu perlawanan. Makin banyak anak muda yang mulai menggugat sistem yang selama ini dianggap biasa. Mereka kritis terhadap kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, eksploitasi ekonomi, sampai gaya hidup konsumtif. Resistensi ini jadi bukti bahwa di balik kecemasan mereka, ada potensi besar untuk membawa perubahan.

Jika dicermati lebih dalam, akar persoalan yang dihadapi Gen Z sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini. Krisis ekonomi, politik, sosial, moral, hingga krisis makna hidup berjalan beriringan. Sistem kapitalisme global telah menjadikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan manusia. Nilai seseorang diukur dari produktivitas, kekayaan, popularitas, dan pencapaian duniawi.

Akibatnya, generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan keyakinan bahwa kebahagiaan dapat dibeli dan identitas diri dibangun melalui pengakuan manusia. Ketika target-target tersebut gagal dicapai, lahirlah kekecewaan, kecemasan, bahkan depresi. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan:

“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Baca Juga  Secercah Ilmu dari Empat Guru Besar Unhas

Ayat ini menjelaskan bahwa kegelisahan bukan sekadar persoalan psikologis individual, melainkan juga konsekuensi dari menjauhkan kehidupan dari petunjuk Allah. Ketika manusia hidup tanpa arah yang benar, ia kehilangan ketenangan meskipun memiliki berbagai fasilitas dunia.

Lebih jauh, potensi besar Gen Z malah sering dikerdilkan oleh peradaban sekuler kapitalistik. Industri hiburan, budaya hedonis, konten yang merusak moral, sampai gaya hidup individualis terus membentuk pola pikir mereka. Energi anak muda yang mestinya dipakai buat membangun peradaban malah habis untuk mengejar kesenangan sesaat.

Di sisi lain, negara dengan sistem kapitalisme juga kerap gagal melindungi generasi muda. Biaya pendidikan mahal, lapangan kerja sempit, akses rumah makin sulit, sementara stigma buruk ke anak muda terus muncul. Banyak yang ngecap Gen Z sebagai generasi lemah, manja, atau nggak tahan banting. Padahal mereka tumbuh di tengah masalah yang jauh lebih rumit dibanding generasi sebelumnya.

Tapi kondisi ini nggak harus berujung pesimis. Justru kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa jadi titik awal kebangkitan. Dalam pandangan Islam, rasa gelisah melihat kerusakan adalah fitrah yang bisa menuntun seseorang mencari solusi yang benar.

Islam tidak hanya menawarkan terapi spiritual individual, tetapi juga solusi ideologis yang menyeluruh. Islam memandang manusia sebagai hamba Allah sekaligus pengemban amanah untuk memakmurkan kehidupan sesuai syariat-Nya. Karena itu, Islam menghadirkan aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari akidah, akhlak, pendidikan, ekonomi, hingga politik.
Allah Swt. berfirman:

Baca Juga  Narkoba, Ancaman Nyata Generasi Muslim

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan sejati lahir ketika manusia memahami tujuan hidupnya dan menjalani kehidupan sesuai petunjuk Rabb-nya. Inilah yang melahirkan generasi-generasi unggul dalam sejarah Islam. Mereka memiliki kepribadian Islam yang kokoh sekaligus unggul dalam ilmu pengetahuan, kepemimpinan, militer, ekonomi, dan berbagai bidang lainnya.

Selain itu, Islam juga menempatkan negara sebagai pelindung dan pelayan rakyat. Negara bertanggung jawab menjamin kebutuhan dasar masyarakat, menyediakan pendidikan berkualitas, membuka lapangan pekerjaan, serta menjaga kemuliaan generasi muda. Dengan demikian, pemuda dapat berkembang secara optimal tanpa dibebani oleh ketidakpastian hidup yang berkepanjangan.

Hari ini, tugas terbesar Gen Z bukan sekadar bertahan dari tekanan zaman, tetapi memahami akar persoalan yang mereka hadapi. Kecemasan yang mereka rasakan hendaknya menjadi pemantik kesadaran untuk memperjuangkan perubahan yang hakiki.

Ketika generasi muda kembali menjadikan Islam sebagai mabda (ideologi) kehidupan dan peduli terhadap persoalan umat, maka masa depan yang gemilang tidak lagi menjadi angan-angan. Dari depresi menuju resistensi, dan dari resistensi menuju kebangkitan peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *