OPINI  

DARI SEREMONI KE AKSI Menjadikan Mabi Motor Penggerak Pramuka: Penjaga Budaya dan Bahasa Mamuju di Era Digital

Oleh: Muhammad Yusuf, S.H., M.H.
(Camat & Ketua Mabiran Gerakan Pramuka Kecamatan Sampaga)

Pramuka Bukan Museum Nostalgia
Setiap tanggal 14 Agustus, kita menyaksikan kembali semarak Gerakan Pramuka. Seragam cokelat dikenakan dengan gagah, upacara digelar, penghargaan disematkan, sambutan disampaikan, dan foto bersama menjadi pelengkap perayaan.


Semua itu penting! Namun, ada pertanyaan dasar yang lebih krusial untuk kita renungkan bersama: setelah upacara selesai, apa aksi nyata Pramuka untuk masyarakat?


Pertanyaan ini kian relevan bagi Kabupaten Mamuju dan Sulawesi Barat. Di tengah derasnya arus teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan media sosial, generasi muda memiliki akses informasi yang nyaris tanpa batas. Sayangnya, kemajuan teknologi tidak otomatis mencetak manusia yang peduli, berkarakter, atau mencintai tanah kelahirannya.


Gawai dapat menghubungkan seseorang dengan seluruh dunia, tetapi belum tentu membuatnya mengenal tetangga sebelah rumah. Media sosial bisa melambungkan kepopuleran, tetapi tak jaminan melatih kepedulian.


Di sinilah keunggulan Pramuka.
Pramuka bukan sekadar teori di atas kertas. Pramuka adalah pendidikan melalui pengalaman, kerja sama, disiplin, gotong royong, kepemimpinan, dan pengabdian. Oleh karena itu, Pramuka bukan museum nostalgia, Pramuka harus menjadi laboratorium kehidupan bagi generasi muda.
Mamuju Marendeng dan Jati Diri To Mamuju
Mamuju hari ini tidak lepas dari jejak sejarah panjang masyarakat yang mendiami Bumi Manakarra.


Di tanah inilah, masyarakat tumbuh berlandaskan adat, bahasa, kebudayaan, serta semangat kekeluargaan. Kita mengenal filosofi luhur Mamuju:
“Tampo Pembolongnga Anggatan Simemangang”
Sebuah ungkapan yang seharusnya tidak berhenti sebagai pajangan kata dalam seremoni kebudayaan, melainkan menjadi kesadaran bersama akan identitas dan martabat masyarakat Mamuju.


Bumi Manakarra bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang hidup. Tempat sejarah ditulis, bahasa diwariskan, dan adat dirawat. Karena itu, berbicara tentang pembangunan Mamuju tidak boleh sebatas fisik, jalan, gedung, dan infrastruktur ekonomi semata. Kita harus berbicara tentang manusia: siapa kita, bahasa apa yang kita tuturkan, dan nilai apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu. Inilah hakikat pembangunan manusia yang sesungguhnya.

Baca Juga  Kenikmatan Iftar Ramadhan


“Mamuju KEREN” yang Berakar Budaya
Visi Mamuju KEREN (Kreatif, Edukatif, Ramah, Energik, dan Nyaman) harus diterjemahkan menjadi karakter masyarakat.
Mewujudkan hasil Deklarasi pemerintah daerah tentang gerakan “Taki Maq Bahasa Mamuju”, Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) Gerakan Pramuka Mamuju, Dr. Hj. Sitti Sutinah Suhardi, S.H., M.Si., memosisikan kader Pramuka sebagai garda depan pelestari bahasa daerah.


Langkah konkret ini dibuktikan pada ajang Jambore Nasional (Jamnas) XII di Cibubur (14–21 Agustus 2026). Pramuka
Mamuju mengusung program Best Practice bertajuk “Makkema” (Kemah Kampung Bahasa Daerah Mamuju) untuk dipraktikkan dan dipentaskan di panggung nasional.
Sebagai kader bangsa, anggota Pramuka mayoritas diisi oleh remaja dan pemuda energik yang sejalan dengan napas Mamuju KEREN:


KEREN:
● Kreatif: Didorong untuk terus menghasilkan karya.
● Edukatif: Belajar secara langsung melalui pengalaman nyata.
● Ramah: Menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan penghormatan.
● Energik: Dibentuk menjadi generasi aktif dan produktif.
● Nyaman: Diajak peduli pada kelestarian lingkungan dan sosial.
Namun, ada satu dimensi krusial yang perlu ditegaskan dalam konteks daerah kita: BERAKAR.

Generasi muda Mamuju boleh menjadi manusia modern, mahir teknologi, dan terkoneksi secara global, tetapi jangan sampai tercerabut dari akar budaya, malu berbahasa daerah, atau asing dengan sejarahnya sendiri.
Pramuka dan Misi Menyelamatkan Bahasa Daerah


Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wahana penampung ingatan kolektif suatu masyarakat. Di dalamnya tersimpan sejarah, etika, humor, petuah, dan pandangan hidup. Jika suatu bahasa punah, maka hilang pula sebagian cara masyarakat tersebut dalam memahami dunianya.

Pelestarian Bahasa Mamuju harus menjadi gerakan kebudayaan, dan Pramuka adalah motor utamanya. Mengapa kita tidak memulai gerakan sederhana: “Satu Pramuka, Satu Kata Mamuju”?
Di tingkat Gugus Depan (Gudep), hal ini bisa diwujudkan melalui:
● Pembukaan latihan dengan salam atau ungkapan Bahasa Mamuju.
● Pengenalan kosa kata/istilah lokal di setiap pertemuan.
● Lomba mendongeng, pidato, dan cerita rakyat berbahasa Mamuju.
● Pembuatan kamus digital sederhana dan dokumentasi istilah-istilah langka.
● Pembuatan konten edukasi media sosial berbahasa Mamuju.
● Wawancara Pramuka dengan tokoh adat untuk mendokumentasikan tradisi dan permainan lokal.

Baca Juga  Catatan Anno AS: Menatap Sulbar dari Makassar


Dengan cara-cara taktis ini, Bahasa Mamuju tidak sekadar terarsip di buku-buku tua, tetapi kembali bergelora di bibir anak-anak muda.
Menjembatani Generasi Lewat Ruang Digital
Sering kali ada jarak (gap) antargenerasi: generasi tua menyimpan khazanah kata dan sejarah, sementara generasi muda lebih akrab dengan bahasa digital. Pramuka dapat hadir sebagai jembatan.


Melalui pendekatan Mamuju Digital Storytelling, anggota Pramuka dapat sowan ke tokoh-tokoh tua, menggali kisah, lalu mengemasnya menjadi konten digital—mulai dari video pendek, podcast, dokumentasi tradisi, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk edukasi budaya (tentu dengan kurasi tokoh adat).

Inilah strategi kita: bukan melawan arus teknologi, melainkan memanfaatkan teknologi untuk menyelamatkan identitas.
Mabi: Jangan Sekadar Nama dalam Struktur
Di sinilah peran Majelis Pembimbing (Mabi)—mulai dari tingkat Cabang, Ranting, hingga Desa—menjadi sangat krusial. Kepala Daerah, Camat, hingga Kepala Desa yang menjabat unsur pembimbing jangan hanya berhenti sebagai figur simbolis.


Ketua Mabi tidak boleh sekadar hadir saat pelantikan, memberi sambutan, berfoto seragam, lalu menghilang. Ketua Mabi harus menjadi motor penggerak!

Mabi tak perlu mencampuri teknis kepramukaan Kwartir, melainkan bertugas mengeksplorasi kebijakan, membuka akses kolaborasi, serta memastikan program Pramuka terintegrasi dengan agenda pembangunan daerah, salah satunya pelestarian budaya.

Baca Juga  Syekh Hasan Yamani Ulama Ternama di Tanah Mandar


Bayangkan jika setiap Gudep di Mamuju memiliki fokus aksi: ada yang mendokumentasikan bahasa, menjaga lingkungan, belajar kesiapsiagaan bencana, hingga mengelola kebun pangan. Maka Pramuka tidak lagi dipandang sekadar peserta upacara, melainkan pilar pengabdian nyata.
Dari “Tabe” ke Etika Digita.


Nilai kesantunan lokal seperti Tabe (permisi/menghormati), gotong royong, dan rasa malu melakukan celaan harus diboyong ke dalam ruang digital. Anak muda Mamuju perlu paham bahwa etika tidak berhenti di pintu rumah, melainkan berlaku di WhatsApp, TikTok, Instagram, hingga kolom komentar.
Jangan sampai teknologi membuat kita makin pintar tetapi makin kasar. Pramuka harus mengambil peran sebagai ruang pendidikan etika dan literasi digital.


Penutup: Agar Anak Cucu Tetap Mengenal Tanah Pusaka “Tampo Pembolongang”
Pembangunan Mamuju bukan hanya soal hari ini, melainkan investasi masa depan. Keberhasilan Gerakan Pramuka tidak diukur dari seberapa meriah upacaranya atau seberapa banyak piagam yang dibagikan, melainkan: berapa banyak karakter anak muda yang terbentuk, berapa budaya yang terselamatkan, dan seberapa bangga mereka mengaku sebagai To Mamuju.


Mari kita bawa Gerakan Pramuka keluar dari kungkungan seremoni menuju aksi nyata:
● Dari lapangan upacara menuju desa,
● Dari ruang rapat menuju masyarakat,
● Dari buku menuju pengalaman,
● Dari bahasa yang hampir dilupakan menuju bahasa yang kembali dituturkan.


Sebab menjadi modern tidak berarti harus melupakan sejarah, dan menjadi bagian dari Indonesia yang besar tidak berarti harus kehilangan identitas daerah.
Dari Mamuju untuk Sulawesi Barat, dari Sulawesi Barat untuk Indonesia. Mari kita gerakkan Pramuka demi melahirkan generasi yang mandiri, berkarakter, dan berakar kuat pada budayanya.


“Alloh Campa Logana To Mamuju, Masagena Masannang.”
(Semoga Allah melimpahkan kebaikan, keselamatan, keberkahan, ketenteraman, dan kebahagiaan kepada seluruh masyarakat Mamuju).


SALAM PRAMUKA!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *