Mengenal Sejarah Perjuangan I Calo Ammana I Wewang (Topole Di Balitung)

MAJENE, Ammana I Wewang Berjuang Menentang Penjajahan Belanda, yang mengisahkan perjalanan perjuangan I Calo Ammana I Wewang dari Kerajaan Balanipa, yang juga dikenal sebagai I Calo Ammana I Wewang atau “Topole di Balitung.

Sejarah Singkat Perjuangan I Calo Ammana I Wewang

Latar Belakang & Identitas

  • Ammana I Wewang lahir pada tahun 1854 di Kampung Lutang (sekarang Kelurahan Tande, Kec. Banggae, Majene), keturunan bangsawan Mandar. Ia kemudian menjabat sebagai Mara’dia Alu dan Mara’dia Malolo dari Kerajaan Balanipa.

Perlawanan terhadap Belanda (1906–1907)

  • Pada tanggal 6–7 Juni 1906, Ammana I Wewang memimpin sekitar 150 orang penduduk merebut pelabuhan strategis di Majene. Mereka membakar pesanggrahan dan rumah syahbandar Belanda; pegawai kontrolir Schmidhamer dibunuh, sementara kontrolir Ketting Olivier berhasil melarikan diri.
  • Belanda membalas dengan mengirim kapal “Siboga” yang membawa 60 pasukan, dipimpin Kapten Lenshoek. Penyerangan terjadi hingga pertahanan di pegunungan pedalaman berhasil dilumpuhkan.
Baca Juga  Upaya Tingkatkan Produktifitas, Dosen Unsulbar Perkenalkan Inovasi Pengasapan Ikan Terbang

Taktik Gerilya dan Penangkapan

  • Ammana I Wewang menggunakan taktik perang gerilya—bergerak cepat, sporadis, dan tidak terduga—serta membangun sejumlah benteng pertahanan seperti Benteng Galung, Benteng Tundung, dan Benteng Kayu Mangiwang untuk menghentikan lajunya pasukan Belanda.
  • Pada tanggal 23 Juli 1907, ia tertangkap karena dikhianati—tempat persembunyiannya dibocorkan oleh orang terdekat atas imbalan—dipaksa diikat dan kemudian dibawa ke Majene.
Baca Juga  Festival Sandeq Segitiga 2023 Telah Berakhir, Ini Pemenangnya

Masa Pengasingan & Kepulangan

  • Setelah diadili, Ammana I Wewang diasingkan ke Pulau Belitung bersama sembilan pengikutnya mulai akhir tahun 1907. Di sana, ia tetap dihormati oleh penduduk setempat, bahkan sempat menikah meski tanpa keturunan.
  • Ia akhirnya dibebaskan oleh tentara Jepang dan kembali ke Mandar sekitar tahun 1942. Kepulangannya disambut hangat oleh rakyat. Ammana I Wewang meninggal pada tahun 1967 di Limboro, dekat Tinambung.
Baca Juga  Festival Gau Maraja 2025: Maradika Mamuju Pastikan akan Hadir Bersama Keluarga Besar Wija La Patau Matanna Tikka Mamuju

Warisan & Pengakuan Publik

  • Sebagai penghormatan, nama Ammana I Wewang diabadikan sebagai nama jalan di Kota Majene dan Tinambung.
  • Pada 17 Juli 2025, digelar Forum Group Discussion (FGD) di Polewali Mandar dengan tema “Meretas Jalan Pengusulan Calon Pahlawan Nasional: I Calo Ammana I Wewang, To Pole di Walitung.” Forum ini merupakan langkah formal untuk mengusulkan beliau menjadi Pahlawan Nasional, sekaligus memperkuat pendidikan dan pelestarian bahasa Mandar.

Ringkasan Perjuangan

TahapRingkasan
IdentitasBangsawan Mandar, pemimpin perang dari Kerajaan Balanipa
PerlawananMerebut pelabuhan, membakar fasilitas Belanda (1906)
TaktikPerang gerilya dan pendirian benteng pertahanan
PenangkapanDitangkap lewat pengkhianatan (1907)
PengasinganDibuang ke Belitung selama hampir 37 tahun
KepulanganBebas oleh Jepang dan kembali ke Mandar (1942)
WarisanJalan dinamakan dengan namanya; diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *